bedah ku

•April 22, 2008 • Leave a Comment

LAPORAN KOASSISTENSI KASUS

ILMU BEDAH DAN RADIOLOGI

 

 

 

OPERASI COLOPEXY PADA ANJING “RIRI”

 

 

 

 

 

Disusun oleh :

Muhammad Arief Suseno, SKH

03/161825/KH/05217

 

Dosen Pembimbing :

Dr.drh. R. H. Dhirgo Adji, MP

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAGIAN ILMU BEDAH DAN RADIOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS GADJAH MADA

YOGYAKARTA

2008

HALAMAN PENGESAHAN

 

OPERASI COLOPEXY PADA ANJING “RIRI”

 

Dipersiapkan dan disusun oleh :

Muhammad Arief Suseno, SKH

03/168201/KH/05217

 

 

Telah dipertahankan
di hadapan dosen penguji pada tanggal    April 2008 dan dinyatakan telah lulus
memenuhi persyaratan mencapai derajat Dokter Hewan

 

 

 

 

 

Dosen Pembimbing dan Penguji

 

 

 

 

 

Dr.drh. R. H. Dhirgo Adji, MP                           ____________________

 

 

 

 

 

 

 

Yogyakarta, April 2008

Laboratorium Ilmu Bedah dan Radiologi

Fakultas Kedokteran Hewan

Universitas Gadjah Mada

 


KATA PENGANTAR

 

Segala puji
hanya milik Allah SWT, Tuhan Yang Maha Suci dan Yang Maha Tinggi, karena hanya
dengan izin-Nya lah laporan kasus mandiri koasistensi bagian bedah dan
radiologi dengan tema “Operasi colopexy” ini dapat selesai.

Penyusunan
laporan ini bertujuan untuk memenuhi sebagian persyaratan untuk memperoleh
gelar profesi Dokter Hewan, Universitas Gadjah Mada Jogjakarta.

Penulis mengucapkan terima kasih
kepada berbagai pihak yang telah membantu penyelesaian penulisan laporan ini :

  1. Dr.drh. R. H. Dhirgo Adji, MP selaku dosen pembimbing yang selalu
    meluangkan waktu, tenaga dan pikiran sampai dapat terselesaikannya laporan
    koasistensi ini.
  2. Dosen-dosen di Laboratorium Ilmu Bedah dan
    Radiologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada yang telah
    memberikan bimbingan dan pengarahan selama penulis menjalankan koasistensi
    klinik Ilmu Bedah dan Radiologi.
  3. Seluruh staf Laboratorium Ilmu Bedah dan
    Radiologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada.
  4. Kelompok Koas F.08.09 :  Rizka, Ety, Agna, Tika, Sigit, Rizal,
    Dwi atas kerjasamanya dalam membantu penulis dalam menyelesaikan kasus
    mandiri dan laporan koasistensi

 

      Mudah-mudahan
tulisan ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan dapat menambah wawasan dan
kecintaan serta kekaguman atas ciptaanNya.

 

Yogyakarta,
April 2008

 

 

                                                                                              
Penulis


DAFTAR ISI

 

 

HALAMAN JUDUL
………………………………………………………………………………..

i

HALAMAN PENGESAHAN
……………………………………………………………………

ii

KATA PENGANTAR
……………………………………………………………………………..

iii

DAFTAR
ISI
…………………………………………………………………………………………..

DAFTAR
TABEL ……………………………………………….………………

DAFTAR
GRAFIK ……………………………………………………………..

DAFTAR GAMBAR
……………………………………………………………

INTISARI………………………………………………………………………..

iv

v

vi

vii

viii

PENDAHULUAN
……………………………………………………………………………..

TINJAUAN PUSTAKA ……………………………………………………

Fisiologi
Anjing……………………………………………………

Operasi
Colopexy………………………………………….……….

Anastesi
…………………………………………………….……..

Darah
……………………………………………………….……..

Anemia……………………………………………….……….……

Tekanan darah
…………………………………….………………

Kesembuhan luka
………………………………….………………

Obat yang digunakan ……………………………………………..

1

2

2

6

7

12

21

25

28

34

 

MATERI DAN METODE
…………………………………………………………..

Materi ……………………………………………………………..

Metode ……………………………………………………………

37

37

40

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN ……………………………………………

42

  KESIMPULAN
……………………………………………………………

 55

DAFTAR PUSTAKA
……………………………………………………..……

 

 60

 

 

 

 

 

 

 

 

 


DAFTAR TABEL

 

Tabel 1. Klasifikasi
anemia dan penyebabnya…………………………………..

Tabel 2. Hasil
pemeriksaan darah sebelum operasi …………………….…….….

 

23

43

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR GRAFIK

 

Grafik 1. Tekanan
darah  hewan selama operasi setiap 10
menit…………………….

Grafik 2. Pengukuran suhu
tubuh selama operasi setiap 10 menit…………………..

Grafik 3. Pengukuran suhu hewan pasca
operasi………………………………………….

Grafik 4. Pengukuran suhu hewan tujuh
hari pasca operasi…………………………..

Grafik 5.
Pengukuran frekuensi nafas selama tujuh hari setelah operasi………….

Grafik 6. Menunjukkan Jumlah Pulsus Hewan Selama Tujuh Hari
Setelah Operasi ……………………………………………………………………………………

 

 

 

 

 

44

45

46

47

48

 

49

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


DAFTAR GAMBAR

 

Gambar 1. Operasi colopexy ……………………………………………………

Gambar 2. Mengeluarkan colon
…………………………………………………………………

Gambar 3. Menempelkan colon de4ngan dinding abdomen dengan jahitan
sederhana tunggal
……………………………………………………………………

Gambar 4. Penutupan Peritoneum dan
linea alba …………………………………………

Gambar 5. Penutupan subcutan
………………………………………………………………….

Gambar 6. Penutupan kulit
……………………………………………………………………….

Gambar
7. Pemasangan head collar setelah operasi untuk mencegah lepasnya jahitan
……………………………………………………………………………………

Gambar 8. Kesembuhan luka di hari
ke-8……………………………………………………

 

 

 

 

 

 

   7

  56

 

  56

  57

  57 

  58  

 

58

  59

    

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


INTISARI

 

 

OPERASI COLOPEXY PADA ANJING “RIRI”

 

 

Oleh:

Muhammad Arief Suseno, SKH

03/161825/KH/05217

 

Pada tanggal 27 Maret 2008 telah dilakukan pemeriksaan pada
seekor anjing lokal jantan berumur 1 tahun dengan berat badan 3,8 kg, milik Bpk
Arif yang beralamat di Pogung Lor D-1 Sinduadi Mlati, Sleman, Yogyakarta.
Pemilik memberikan keterangan bahwa anjing tersebut dibeli 7 hari sebelumnya di
Bantul, nafsu makan dan minum normal, tidak diare, tidak muntah, pakan yang
diberikan adalah nasi dicampur ati, anjing tersebut belum pernah divaksin,
belum pernah diberi obat cacing, dan anjing tersebut sudah dipuasakan sehari
sebelumnya. Pemilik menginginkan anjingnya dioperasi colopexy.

Hasil pemeriksaan fisik menunjukan ekspresi muka ceria,
kondisi tubuh sedang. Frekuensi nafas 28 kali per menit, frekuensi pulsus 140
kali per menit, dan suhu tubuh 37,5oC. Turgor kulit normal (<2
detik), rambut tidak rontok, kusam, terdapat keropeng kecil-kecil pada kulit
punggung, serta terdapat alopesia pada kulit yang berkeropeng. Konjungtiva dan
ginggiva anemis, CRT <2 detik. Pemeriksaan pada sistem yang lain tidak
menunjukkan adanya perubahan. Pemeriksaan kulit ditemukan Riphicepalus sp.
Pemeriksaan darah menunjukkan bahwa anjing tersebut mengalami anemia,
limfopenia, dan monositenia. Secara umum anjing itu layak untuk dilakukan
operasi colopexy.

            Premedikasi yang digunakan dalam operasi ini adalah
atropin sulfat 0,025% dengan dosis 0,04 mg/kg BB secara sub cutan. Anastesi
berupa campuran ketamin HCl 10% dengan dosis 15 mg/kg BB dengan xylazine 2%
dengan dosis 2 mg/kg BB diberikan 15 menit secara intra muskuler pasca
pemberian atropin sulfat.

            Perawatan pasca operasi yang
dilakukan adalah injeksi ampicillin 10% dengan dosis 10 mg/kg BB secara intra
muskular dua kali sehari selama 3 hari dan pemberian salep bioplasenton dua
kali sehari secara topikal sampai luka mengering. Jahitan dapat dilepas 1
minggu setelah operasi.

 

 

 

 

 

 

 

Kata
kunci : colopexy, premedikasi anestesi, anestesi umum,

 


PENDAHULUAN

 

            Operasi dalam ilmu bedah bertujuan
untuk menyembuhkan luka atau lesi menghilangkan penyebab penyakit yaitu operasi
terapi dan operasi kosmetik. Colopexy sendiri dilakukan untuk mencegah
terjadinya prolaps recti. Colopexy merupakan bentuk ataupun cara yang dilakukan
untuk melekatkan secara tetap antara permukaan serosa dari colon dan dinding
abdomen sehingga mencegah pergerakan dari colon dan rectum (Anonimus, 2006).

Operasi colopexy dilakukan dengan menggunakan atropine
sulfat sebagai premedikasinya dan campuran dari ketamin HCl dan xylazin sebagai
anastesinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TINJAUAN PUSTAKA

Fisiologi Anjing

Temperatur

Temperatur tubuh internal diukur dengan mengukur rektal
menggunakan termometer. Suhu tubuh menunjukkan adanya variasi sepanjang hari
dan dapat dipengaruhi oleh berbagai hal seperti penyakit, status hormonal dan
aktivitas hewan. Produksi  panas dapat
meningkat bilamana terjadi peningkatan aktivitas otot dan metabolisme dibawah
pengaruh hormon seperti hormon tiroid dan katekolamin. Temperatur tubuh
terendah ditemukan pada waktu pagi, sedikit meningkat pada tengah hari dan suhu
tertinggi ditemukan pada sore hari. Peningkatan temperatur tubuh secara
fisiologis dapat terjadi setelah makan, setelah kerja keras, pada hari
melahirkan (kecuali anjing, biasanya temperatur tubuhnya subnormal), pada
temperatur atmosfer yang tinggi dan bilamana hewan mengalami aksitasi. Pada
hewan sehat yang mengalami latihan berat suhu yang meningkat akan segera
kembali lagi kebatasan normal dalam waktu 10-20 menit, sedang pada hewan yang
sakit latihan akan mengakibatkan peningkatan suhu tubuh yang lebih besar dan
diikuti penurunan temperatur yang lambat 
(Widiyono, 2001). Temperatur normal anjing 37,8 – 39,5 0C
(Surono dkk, 2003).

Pulsus

Arteri yang dapat digunakan untuk memeriksa pulsus anjing adalah
arteri yang terletak dibawah kulit. Anjing dan kucing, pulsus dapat diraba pada
arteria femoralis pada bagian dalam paha. Pada umumnya hewan muda, kecil,
bunting dan betina memiliki frekuensi yang lebih besar dibanding hewan tua,
besar, jantan dan tidak bunting. Pulsus meningkat dapat terjadi secara
fisiologis pada saat bekerja, gerak dan terkejut akibat adanya simpatikotoni.
Pada keadaan patologis, pulsus meningkat
dapat ditemukan pada kasus demam, keracunan, anemia serta penyakit jantung.
Sedangkan frekuensi pulsus yang menurun dapat terjadi pada kasus penurunan
aktivitas jantung (Widiyono, 2001). Frekuensi pulsus normal anjing 76-148
kali/menit (Surono dkk, 2003).

Nafas

Secara fisiologis frekuensi
nafas dapat dipengaruhi oleh umur, stimuli, kerja. Bila terjadi hecheln yakni
bernafas pendek, dangkal dengan lidah terjulur maka frekuensi nafas tidak dapat
dihitung dan dievaluasi. Frekuensi nafas yang meningkat terjadi pada keadaan stress,
kerja, demam dan adanya rasa sakit. Sebaliknya juga dapat terjadi penurunan
frekuensi nafas pada depresi kepekaan pusat nafas pada kasus seperti
peningkatan tekanan dalam otak, hilang kesadaran, uremia dan tekanan oksigen
yang meningkat (Widiyono, 2001). Frekuensi nafas normal anjing 24-42 kali/menit
(Surono dkk, 2003).

Tekanan darah

Tekanan darah merupakan
tekanan pada pembuluh darah arteri disebabkan oleh pemompaan untuk mengalirkan
darah ke seluruh tubuh oleh jantung
(Anonim b, 2008). Tekanan darah dapat juga ditentukan
sebagai tekanan terhadap pembuluh darah yang disebabkan oleh pemompaan jantung
pada aliran darah ke seluruh tubuh (Anonim, 2007).
Tekanan yang ditimbulkan oleh dinding
arteri akan digunakan untuk mempertahankan tekanan diastole dalam arteri dan
akan mengalirkan darah ke kapiler saat ventrikel relaksasi (
Frandson, R.D, et al, 2003).

 Tekanan darah terbagi menjadi menjadi 3 unsur yaitu sistole, diastole,
dan rata-rata tekanan arterial (Battaglia, 2007).
Tekanan darah memuncak pada saat jantung
memompa, ini dinamakan “Systole”, dan menurun sampai pada tekanan
terendah yaitu saat jantung tidak memompa (relaxes) ini disebut
“Diastole”.
Tekanan darah bervariasi dari waktu
ke waktu, yang dipengaruhi oleh bermacam-macam penyebab – posisi tubuh, kondisi
pernafasan atau emosi, olahraga dan tidur. Biasanya tekanan darah terendah
terjadi saat tidur dan tertinggi jika terangsang (exited), stress atau olahraga
(Anonim b, 2008).

Beberapa
faktor yang membantu menentukan tekanan darah adalah jumlah darah yang dipompa
dari jantung semakin banyak dari setiap menitnya (cardiac output) maka
semakin tinggi tekanan darah. Banyaknya darah yang dipompa mungkin berkurang
jika irama jantung melambat atau kontraksinya melemah, seperti yang bisa
terjadi setelah serangan jantung (infark miokardium). Denyut jantung
yang sangat cepat, yang bisa mengurangi efisiensi pompa jantung. Adanya
Kehilangan darah karena dehidrasi atau perdarahan bisa mengurangi volume
darah dan menurunkan tekanan darah. Semakin kecil kapasitas pembuluh jantung
maka  semakin tinggi tekanan darah.
Dilatasi pembuluh darah dapat menyebabkan menurunnya tekanan darah dan
sebaliknya (Anonim b, 2008).

Bebarapa
indikasi dari pengukuran tekanan darah yaitu adanya kecenderungan pada pasien
yang mengalami abnormalitas cardiovaskular (shock, penyakit jantung,
sindrom keradangan sistemik ataupun sindrom disfungsi multipel organ), pasien
mengalami perubahan status klinik, saat pasien teranestesi, saat pasien
dilakukan ventilisasi mekanik, serta jika pasien dengan penyakit primer yang
berhubungan dengan hipertensi seperti gagal ginjal kronis, hiperthyroidsm,
hiperadrenocorticism (Cushing’s syndrome) (Battaglia, 2007).

            Pengukuran
tekanan darah dapat dilakukan dengan metode langsung maupun tidak langsung.
Metode langsung dilakukan dengan memasukkan kateter pada a. Karotid kemudian
dihubungkan dengan transduser mekanik dan arus listrik pada amplifier
dan perekam. Metode tidak langsung dilakukan dengan penempatan sensor pada
posisi distal dari cuff (manset) yang dipasang dan tranduser mekanik
untuk menentukan pulsus dalam arteri kemudian dihubungkan ke amplifier sehingga
dapat mengetahui nilai tekanan sistole dan diastole. Caranya
yaitu pada kaki depan dengan dililitkan cuff (manset) untuk
menghentikan  aliran darah di dalam
arteri, apabila alat ini dipompa maka akan terjadi tekanan dan adanya tekanan
yang terjadi saat darah mengalir pertama kali sesaat setelah cuff tersebut
dilepas, ini merupakan tekanan sistole, kemudian setelah tekanan ini
dilepas merupakan tekanan diastole. Cara pengukuran tidak langsung ini,
kurang akurat. Nilai sistole normal anjing dengan rata-rata  110-160 mmHg sedangkan nilai diastole
normal anjing dengan rata-rata 50-100 mmHg. Dalam keadaan hipertensi nilai
tekanan diatas 170/110 mmHg, jika tekanannya terlalu tinggi, bisa merobek
pembuluh darah dan menyebabkan perdarahan di dalam otak (stroke hemoragic).
Sedangkan dalam keadaan hipotensi nilai tekanan dibawah 90/50 mmHg, jika
tekanannya terlalu rendah, maka darah tidak dapat memberikan oksigen dan zat
makanan yang cukup untuk sel dan tidak dapat membuang limbah yang dihasilkan
sebagaimana mestinya
(Anonim a, 2007; Anonim b, 2008).

Operasi
colon (Colopexy)

           

Colopexy adalah suatu tindakan
untuk mencegah pergerakan bagian caudal dari colon dan rectum, khususnya untuk
hewan yang mengalami prolaps rectal. Prosedur 
dalam colopexy ini adalah membuat perlekatan antara lapisan serosa dari
colon dengan dinding abdomen.  Teknik dengan
mengincisi atau tidak mengincisi keduanya sama-sama efektif. Komplikasi yang
sering terjadi pada operasi colopexy yakni infeksi yang terjadi karena jahitan
menusuk sampai lumen colon.

            Penempelan
antara dinding abdomen dengan lapisan serosa colon dapat  menggunakan cut gut chromic. Di teruskan
dengan menutup peritoneum dan linea alba dengan jahitan sederhana tunggal dapat
menggunakan benang katun, pada penutupan subcutan menggunakan jahitan sederhana
menerus dan kulit menggunakan katun dengan pola sederhana tunggal (
Fossum, 2002).

           


 

 

IMC16234

From: Fossum, TW: Small Animal Surgery, Mosby
2002.

 

 

 

 

Gambar 1         . Operasi
colopexy

 

Anastesi

Istilah anastesi dimunculkan pertama kali oleh Holmes yang
artinya tidak ada rasa nyeri. Pada dasarnya pemberian anastesi memang dilakukan
untuk mengurangi bahkan menghilangkan rasa nyeri baik disertai atau tanpa
disertai hilangnya kesadaran. Biasanya anastesi dibutuhkan pada tindakan –
tindakan yang berkaitan dengan pembedahan, karena dalam waktu yang tertentu
harus dapat dipastikan hewan tidak dapat merasakan nyeri sehingga tidak
menimbulkan penderitaan bagi hewan (Komang, 2004).

Obat-obatan yang anastetika yang diberikan pada hewan akan
membuat hewan tersebut tidak peka terhadap rasa sakit sehingga hewan menjadi
tenang, dengan demikian pembedahan lebih aman dan lancer. Beberapa obat
anastetik ada yang mampu menghilangkan rasa nyeri, sehingga masih dibutuhkan
obat – obat yang mempunyai kemampuan analgesik. Hal penting yang perlu
dipertimbangkan dalam suatu anastesi antara lain : nama obat (kandungan obat),
jndikasi obat, sifat – sifat obat, efek samping obat, mekanisme kerja obat,
cara pemberian (peroral, perenteral atau perinhalasi), kondisi umum hewan,
spesies hewan dan umur hewan, tujuan anastesi. Tujuan umum pemberian anastesi :

  1. Mengurangi atau menghilangkan rasa
    nyeri dengan meminimalkan kerusakan beberapa organ tubuh terutama pada
    pasien dengan kondisi khusus, seperti : pada pasien tua, bayi atau
    penderita komplikasi.
  2. Membuat hewan tidak terlalu banyak
    bergerak bila dibutuhkan relaksasi muskulus (mengendalikan hewan) (
    Anonimus,1996).

Pemilihan penggunaan metode anastesi akan bergantung pada
beberapa faktor, namun yang terpenting merupakan tindakan pengobatan yang
dilakukan terhadap penderita dan memberikan keselamatan kepada mereka yang
terlibat dalam prosedur pemberian anastesi. Berbagai anastetika berpengaruh
terhadap fisiologi hewan dari berbagai aspek. Seleksi obat yang hati–hati dan
penggunaannya dalam kombinasi dapat mengurangi hal–hal yang membahayakan. Ada
sejumlah interaksi yang kuat antara obat anastetik yany digunakan dengan prosedur
penelitian–penelitian yang khusus. Untuk mengurangi berbagai problem dari sifat
– sifat kimianya, obat tersebut harus melalui penilaian efek–efek yang terjadi
pada system tubuh yang spesifik. (Komang, 2004).

Atropine sulfate

            Atropine sulfate merupakan senyawa
anti muskarinik yang bekerja sebagai antagonis kompetitif asetilkoline pada
reseptor muskarinik. Atropine sulfate juga merupakan parasimpatolitik yang
menghambat pelepasan asetil kolin di ganglion parasimpatik sehingga menghambat
respon stimulasi divisi parasimpatik. Atropine sulfate merupakan alkaloid yang
penting dari tanaman Atropa belladonna dan digunakan dalam anastesi
sebagai sulfat yang larut air (Brander et al.1991)

Fungsi atropine sebagai premedikasi adalah untuk meniadakan
efek saliva dan sekresi eksokrin, bronkodilator, mengurangi aktifitas traktus
digestifus, menghambat urinasi, menekan aksi vagus dan mendilatasi pupil selama
anastesi (Lumb and Jones, 1984; Brander et al.,1991). Atropine dapat diberikan
secara rutin bersama dengan penggunaan obat-obat yang dapat menimbulkan iritasi
inhalasi atau pada penggunaan ketamine, phencyclidine dan azaperone, tetapi
pemberian tidak dianjurkan pada keadaan takikardia. Atropine diberikan secara
subcutan  atau intra muskuler 30 – 40
menit sebelum anastesi atau segra sebelum anastesi dilakukan bila diberikan
intra vena. Pemberian intra vena untuk menetralisir efek samping neostigmine
atau mengkoreksi hipotensi yang disertai bradikardia. Kontra indikasi obat ini
hewan yang menderita gangguan hepar. (Komang, 2004).

            Dosis atropine sulfat yang diberikan
untuk premedikasi anjing dan kucing adalah 0,02 – 0,04 mg/kg berat badan yang
diberikan secara subcutan (Plumb, 1999). Atropine diberikan secara injeksi
subcutan 15 sampai 20 menit sebelum induksi dari anastesi, mengurangi aksi dari
vagus serta akan sedikit meningkatkan tekanan darah setelah pemberian. Dalam
pemberian harus hati-hati agar depresi pada pusat respirasi tidak terjadi
(Wilson dan Schild, 1968).

Xylazin

Xylazine menimbulkan efek
relakssasi muskulus sentralis. Selain itu juga mempunyai efek analgesic.
Kondisi tidur yang ringan sampai kondisi narcosis yang dalam dapat tercapai,
tergantung dois untuk masing-maing spesies hewan.
Bila dipakai bersama barbiturate dan ketamine,
potensiasi yang terjadi dapat mencapai 50%. Obat ini dapat berfungsi sebagai
sedatifa terutama pada sapid an domba, tetapi juga dapat dipakai untuk kuda,
kuscing, anjing, primate dan kelinci. Efek sedasi tercapai maksimal 20 menit.
Setelah pemberian intra muskuler dan berakhir setelah satu jam. Xylazine yang
dipakai untuk tujuan relaksasi muskulus pada umumnya dikombinasikan dengan
ketamine untuk beberapa spesies hewan. Pada hewan kecil efek sampingnya
meliputi bradicardia dan penurunan cardiac autput, vomit, tremor, mortilitas
intestinal menurun tetapi kontraksi uterus meningkat selain itu juga
mempengaruhi keseimbangan hormonal, antara lain menghambat produksi insulin dan
anti deuritik hormone. (Komang, 2004). Efek xylazin pada anjing dan kucing
adalah terjadinya muntah pada pemberian intravena atau intramuskuler, sering
terjadinya distensi abdomen akut (Brander et al.,1991).

Ketamine Hydrocloride

Ketamin HCL merupakan agen anastesi disosiatif yang mempunyai
potensi paling pendek, namun sering digunakan pada hewan dan manusia (Brander,
1982). Ketamin menghasilkan keadaan anastesi disosiatif ditandai dengan
hilangnya rasa sakit yang dalam, tetapi mata tetap terbuka selama stadium
anastesi (Godman dan Gillman, 1995).

Ketamin berupa serbuk hablur berwarna putih yang mudah
larut dalam air, digunakan dalam bentuk larutan yang tidak berwarna, setabil
dalam suhu kamar dan relatif aman (Handoko, 1987). Ketamin mempunyai beberapa
kerugian diantaranya dapat menimbulkan kekejangan pada saat pemulihan yang
dapat menyebabkan kematian (Hall and Clarke, 1983).

Penggunaan ketamin secara tunggal tidak mampu merelaksasi
otot rangka dengan baik, dan sering menimbulkan konvulsi. Untuk menghilangkan
efek samping ini dapat digunakan diazepam, acepromasin, xylazin, thiobarbiturat
(Lumb and Wyn, 1984). Pengaruh ketamin HCL pada berbagai organ tubuh adalah
sebagai berikut: pada pernafasan dan secara klinis dimanifestasikan dalam
bentuk frekuensi nafas.
Terhadap
sistem kardiovaskuler, pemberian ketamin HCL secara intravena maupun secara
intravaskuler akan menaikkan tekanan darah arterial dan kenaikkan ini kadang
kala membahayakan (Haskin et all., 1986).

 Ketamine bersama xylazine dapat dipakasi untuk anastesi pada kucing. Dalam
bentuk campuran ketamine-xylazine  juga
dapat digunakan pada domba dan babi. Sedangkan untuk reptile dan beberapa
spesies unggas digunakan kombinasi ketamine dengan diazepam. Pada semua hewan
ketamine, dengan pemberian tunggal bukan obat anastesi yang baik, karena obat
ini tidak merelaksasi muskulus dan bahkan kadang-kadang tonus sedikit meningkat.
Efek puncak pada hewan umumnya tercapai dalam waktu 6 – 8 menit dan anastesi
berlangsung selama 30-40 menit, sedang untuk recovery dibutuhkan waktu 5-8 jam.
Overdosis ketamine merangsang kardiovaskuler, tetapi obat ini relatif aman bila
diberikan intramuskuler karena batas keamanan yang luas (Komang, 2004).

 

Darah

Darah adalah cairan yang terdapat pada
semua hewan tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat  dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan
tubuh, mengangkut bahan kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai pertahanan
terhadap virus atau bakteri. Istilah medis yang berkaitan dengan darah diawali
dengan kata haemo atau hemato yang berasal dari bahasa yunani haima
yang berarti darah (Perutz, 1978).

Ada beberapa fungsi darah adalah membawa nutrien yang telah
disiapkan oleh saluran pencernaan menuju ke jaringan tubuh, membawa oksigen
dari paru-paru ke jaringan, membawa karbon
dioksida dari jaringan ke
paru-paru, membawa produk buangan dari berbagai jaringan menuju ke ginjal untuk
diekskresikan, membawa hormon dari kelenjar endokrin ke organ-organ lain
didalam tubuh, berperan penting dalam pengendalian suhu tubuh dengan cara
mengangkut panas dari struktur yang lebih dalam menuju ke permukaan tubuh, ikut
berperan dalam mempertahankan keseimbangan air, berperan dalam sistem buffer,
seperti bicarbonat di dalam darah membantu mempertahankan pH yang konstan pada
jaringan dan cairan tubuh, pembekuan darah pada luka mencegah terjadinya
kehilangan darah yang berlebihan pada waktu luka, serta mengandung faktor-faktor
penting untuk pertahanan tubuh terhadap penyakit (Frandson, 1996).

Eritrosit

            Eritrosit adalah sel-sel yang
memiliki diameter 5-6 µm, serta terdiri dari 60-70% H2O, 28-35%
hemoglobin, matrik anorganik maupun organik, membran sel non elastik tetapi
fleksibel, berbentuk bikonkaf, pada mamalia eritrosit tidak berinti, sedangkan
pada unggas dan unta, eritrosit berinti. Eritrosit didalam pembuluh darah
tersusun bertumpuk seperti koin dan disebut dengan istilah reuloux (John
Kramer, 2000). Sel darah merah dihasilkan di limpa, hati dan sumsum merah pada
tulang pipih. Sel darah merah yang sudah mati dihancurkan di dalam hati
(Guyton, 1997)           

Menurut Hickman (1986),
komponen utama sel darah merah adalah molekul haemoprotein, hemoglobin yang
mengisi kira-kira sepertiga dari masa eritrosit. Dengan menggunakan metode
elektrophoretik, hemoglobin dapat 
ditemukan. Molekul hemoglobin teiri atas dua cincin, haem dan globin
yang disintesis sendiri-sendiri. Rantai haem mengandung besi dan merupakan
tempat pengikatan oksigen. Molekul ini memiliki kemampuan mengambil dan
menggantikan oksigen dengan tekanan relatif tipis.

Hemoglobin

            Dalam darah terkandung hemoglobin yang berfungsi sebagai pengangkut
oksigen. Pada sebagian hewan tak bertulang belakang atau invertebrata yang
berukuran kecil, oksigen langsung meresap ke dalam plasma darah karena protein
pembawa oksigennya terlarut secara bebas. Hemoglobin merupakan protein
pengangkut oksigen paling efektif dan terdapat pada hewan – hewan bertulang
belakang atau vertebrata termasuk kuda. Zat besi
dalam bentuk Fe2+ dalam hemoglobin
memberikan warna merah pada
darah. Dalam keadaan normal 100 ml darah mengandung 15
gram hemoglobin yang mampu mengangkut 0,03 gram oksigen
. Hemosianin
yang berwarna biru mengandung tembaga dan digunakan oleh hewan Crustacea.
Sedangkan cumi-cumi mengandung vanadium kromagen yang memberikan warna
hijau muda, biru atau kuning orange (Perutz, 1978).

Packed
Cell Volume
(PCV)

            Nilai hematokrit adalah suatu
istilah yang artinya adalah prosentase berdasar volume dari darah, yang terdiri
dari sel-sel darah merah. Penentuannya dilakukan dengan mengisi tabung
hematokrit dengan darah yang diberi zat agar tidak menggumpal, kemudian
dilakukan sentrifuse sampai sel-sel mengumpul di dasar (Frandson, 1996).

            PCV merupakan perbandingan antara
volume eritrosit darah dan komponen darah yang lain. Volume eritrosit di dalam
darah berbanding langsung terhadap jumlah eritrosit dan kadar hemoglobin. Nilai
PCV merupakan petunjuk yang sangat baik untuk menentukan jumlah eritrosit dan
kadar hemoglobin dalam sirkulasi darah. Nilai PCV merupakan petunjuk dari daya
pengikat oksigen oleh darah dan bermanfaat bagi suatu diagnosis diantaranya
untuk menentukan MCV dan MCHC (Coles, 1986).

Menurut  Mitruka (1981), dengan
proses sentrifuse darah dipisah menjadi tiga bagian yang sangat jelas, dimana
massa sel darah merah berada di bagian tengah yang kemudian disebut Packed
Cell volume
, lapisan putih dari leukosit dan trombosit berada diatas
tumpukan eritrosit yang biasa disebut buffy coat.

Mean Corpuscular Volume (MCV)

            Mean
Corpuscular Volume
merupakan cara untuk mengukur volume rata–rata sel darah
merah. MCV yang kecil berarti ukuran sel darah merahnya lebih kecil daripada
ukuran normal. Biasanya hal ini disebabkan karena defisiensi zat besi dalam
tubuh serta kejadian pada penyakit kronis. Sedangkan nilai MCV biasanya akan
meningkat pada keadaan kekurangan asam folat, defisiensi vitamin B12,
dan defisiensi kobalt (Hariono, 1993).

Packed Cell Volume (PCV) atau Nilai Hematokrit

            Packed Cell Volume (PCV) atau nilai hematokrit
berasal dari bahasa Yunani, yaitu heme (darah) dan kreinin
(memisahkan). Packed Cell Volume merupakan rasio jumlah sel darah merah
dalam total volume darah, sehingga digunakan untuk menetukan julah eritrosit
dalam sirkulasi.
Secara
normal ada hubungan antara nilai PCV dengan nilai Hb. Nilai PCV berbanding
lurus terhadap jumlah eritrosit dan kadar Hb dalam darah (Jain, 1986).

Nilai hematokrit adalah perbandingan antara volume
eritrosit dan komponen darah yang lain. Tabung hematokrit apabila diisi dengan
darah kemudian disentrifugasi akan terpisah menjadi tiga bagian. Bagian yang
pertama adalah PCV atau volume sel darah merah yang merupakan kumpulan
eritrosit yang ada didasar tabung. Bagian yang kedua adalah bagian yang
berwarna putih atau abu-abu yang berada di bagian tengah tabung dan diatas masa
sel darah merah, bagian ini terdiri atas leukosit dan trombosit. Lapisan yang
kedua ini disebut sebagai buffycoat. Bagian yang ketiga adalah bagian
yang paling atas dari tabung hematokrit, lapisan ini disebut plasma darah
(Benjamin, 1979).

            Nilai hematokrit sangat berpengaruh
terhadap viskositas darah, apabila hematokrit meningkat maka viskositas darah
akan meningkat drastis sehingga aliran darah melalui pembuluh darah diperlambat
akibat kerja jantung bertambah berat (Guyton, 1991). Nilai hematokrit akan
turun dalam keadaan anemia, tetapi harus diingat bahwa hewan dalam keadaan
anemia dan hemokonsentrasi berat nilai hematokrit dalam batas normal (Jain,
1986).

Mean Corpuscular Volume (MCV)

Mean Corpuscular Volume
menggambarkan rata-rata volume eritrosit. Nilai MCV dihitung dengan mengalikan
10 PCV ( % ), kemudian dibagi dengan jumlah eritrosit (RBC) (106/mm3).
Variasi biasanya terjadi pada defisiensi besi, dimana sel eritrosit menjadi
kecil dan nilai MCV rendah.
Variasi juga terjadi pada anemia megaloblastik dimana sel eritrosit
menjadi besar dan nilai MCV tinggi (Coles, 1986).

            Nilai MCV naik, mungkin disebabkan terjadinya peningkatan
aktivitas sumsum tulang sebagai kelanjutan hemoragi.
Perdarahan
akut atau hemolisis dan definisi faktor hemopoitik (vitamin B 12 dan asam
folat). Nilai MCV turun karena defisiensi Fe dan Cu (Hariono, 1993).

Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH)

Mean Corpuscular Hemoglobin
adalah berat hemoglobin dalam eritrosit. Nilai MCH diperoleh dengan cara
mengalikan 10 hemoglobin (g/dl), kemudian dibagi dengan jumlah eritrosit (RBC)
( 106/mm3 ) (Hariono, 1993). Mean Corpuscular
Hemoglobin
menggambarkan massa hemoglobin. Pada kondisi anemia, sintesa
hemoglobin tidak berimbang, masa hemoglobin per eritrosit menurun, sehingga
nilai MCH menurun. Nilai  MCH dapat naik
palsu oleh keadaan hiperlipidemia, leukositosis dank arena peningkatan
turbiditas plasma (Lee et al., 1999).

Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC)

Mean Corpuscular Hemoglobin
Concentration
adalah rata-rata persentase konsentrasi
hemoglobin per sel eritrosit. Nilai  MCHC
menggambarkan ratio massa hemoglobin dengan volume hemoglobin yang terdapat
dalam sel eritrosit (Lee et al. , 1999). Nilai MCHC didapat dengan
mengalikan 100 nilai hemoglobin (g/dl), kemudian dibagi dengan nilai PCV ( % )
(Hariono,1993).

Leukosit

            Sel darah putih sangat berbeda dengan eritrosit, karena adanya nukleus
dan memiliki gerak yang indipenden. Sel darah putih bentuknya tidak tetap. Sel
darah putih dibuat di sumsum merah dan kelenjar limpa. Fungsinya untuk
memberantas kuman-kuman penyakit 
(Schalm, 1975).

Neutrofil

            Neutrofil memiliki diameter sekitar
10 – 15 µm. sekitar 70% dari jumlah leukosit adalah sel neutrofil. Sel ini
memiliki 2-5 lobus yang tersambung oleh filamen kromatin. Cytoplasma berwarna
merah muda sampai keabu-abuan karena proses pengecatan (Anonim, 1996). Menurut
Frandson (1996) neutrofil mengandung granula yang memberikan warna tidak biru
maupun merah. Ini merupakan jajaran pertama untuk sistem pertahanan melawan
infeksi dengan cara migrasi ke daerah-darah yang sedang mengalami serangan oleh
agen bakteria.

Neutrofil merupakan sel pertahanan pada jaringan
ekstravaskuler, membunuh bakteri atau organisme infeksius lainnya yang
merupakan benda asing bagi tubuh. Neutrofil disebut juga sebagai
Polimorfonuklear Leukosit (PMNS) oleh beberapa laboratorium
hematologi (Anonim, 2005).     

Eosinofil

            Eosinofil memiliki diameter 10-15 µm. Komponen eosinofil hanya sekitar
2 – 4% dari jumlah total leukosit. Sel ini biasanya hanya terdiri dari dua
lobus nukleus serta sitoplasma berwarna terang yaitu berwarna orange sampai
merah (Anonim, 1996).

Menurut Guyton (1997), eosinofil seringkali diproduksi
dalam jumlah besar pada penderita infeksi parasit dan eosinofil ini akan
bermigrasi ke jaringan yang terinfeksi tersebut. Walaupun kebanyakan parasit
terlalu besar untuk difagosit oleh eosinofil namun eosinofil akan melekatkan
diri pada parasit melalui permukaan khusus dan melepaskan bahan-bahan yang
dapat membunuh parasit tersebut. Eosinofil melakukan hal ini dengan berbagai
cara antara lain dengan melepaskan enzim hidrolitik dari granulanya yang
dimodifikasi oleh lisosom, melepaskan bentuk oksigen yang reaktif yang
khususnya bersifat mematikan serta dapat melepaskan suatu polipeptida yang
bersifat larvasidal.

Basofil

            Basofil mengandung heparin (zat antikoagulan), dipostulasikan bahwa
heparin tersebut dilepaskan di daerah peradangan guna mencegah timbulnya
pembekuan di dalam darah dan limfa. Karena terlibat dalam proses peradangan
maka ada suatu keseimbangan yang peka antara basofil dan eosinofil dalam
menginisiasi proses peradangan. Basofil juga mengandung histamin disamping
sedikit bradikinin dan serotonin. Sel-sel ini terlibat dalam reaksi peradangan
jaringan dan dalam proses reaksi alergik (Guyton, 1997).

Limfosit

            Limfosit memiliki diameter 9 – 14
µm. sel ini merupakan komponen dari sel leukosit yang bersifat agranulosit dan
hanya sekitar 20 – 25% dari jumlah leukosit. Limfosit memiliki ukuran yang
bervariasi dan memiliki nukleus yang relatif besar yang dikelilingi oleh
sitoplasma. Nukleus biasanya berbentuk bulat atau oval dan memiliki ukuran yang
relatif sama dengan eritrosit (Anonim, 
2005).

Fungsi utama dari limfosit adalah merespon antigen
(benda-benda asing) dengan membentuk antibodi yang bersirkulasi di dalam darah
atau dalam pengembangan imunitas (Frandson,1996). Menurut Guyton (1997),
limfosit terletak secara menyebar dalam nodus limfe namun juga dapat ditemukan
di dalam jaringan limfoid khusus seperti limpa, daerah submukosa dari traktus
gastrointestinal dan sumsum tulang. Jaringan limfoid tersebar di dalam tubuh
guna menahan invasi organisme atau toksin sebelum dapat menyebar luas.

Monosit

            Monosit
merupakan sel darah putih yang memiliki fungsi mirip dengan neutrofil yaitu
sebagai fagositik. Kerja utama dari neutrofil adalah mengatasi infeksi akut
sedangkan monosit bekerja pada keadaan yang kronis (Frandson, 1996). Monosit
terkadang mengandung vakuola besar. Monosit diproduksi di sumsum tulang,
melewati darah dan dewasa dalam jaringan untuk menjadi makrofag jaringan (Jain et
all., 1986
).

Protein Plasma

Plasma merupakan cairan
berwarna kuning terang dan mengisi sekitar 55% dari volume darah. Sekitar 6-8%
dari total protein plasma terdiri dari 4,5% albumin, 2% serum globulin serta
0,3% terdiri dari fibrinogen (Schalm, 1975).

Total protein plasma adalah
jumlah keseluruhan protein plasma dalam darah (Jain et all., 1986).
Banyak zat-zat yang tidak larut di dalam air, tetapi apabila terikat dalam
protein plasma menjadi terlarut dan karenanya mudah untuk diangkut di dalam
plasma. Sebagai contoh, zat besi, tiroksin dan kortisol. Fungsi angkutan ini
juga berperan sebagai pool penampungan sementara bagi beberapa zat di dalam
plasma, yang kemudian dapat menggantikan zat tersebut yang ada dalam bentuk
bebas itu menurun. Sebagai contoh, tiroksin dibawa dalam bentuk hormon yang tak
aktif ketika membentuk kompleks di dalam keseimbangan dengan protein plasma.
Apabila kemudian diperlukan pada tingkat jaringan maka ditinggalkanlah protein
karier, menjadi aktif serta merangsang respon seluler (Anonim, 2005).

Fibrinogen

            Fibrinogen merupakan protein plasma yang mempunyai fungsi utama dalam
proses pembekuan darah. Fibrinogen disintesa oleh organ hati dimana diproduksi
oleh mikrosom dalam sel-sel hati. Penyimpanan fibrinogen terjadi pada sel-sel
parenkim hati sampai nanti dibutuhkan oleh tubuh. Fibrinogen mempunyai turn
over time
lebih cepat daripada protein plasma yang lain yaitu sekitar 50
jam. Turn over time yang cepat ini diperlukan untuk mensuplai fibrinogen
baru untuk melindungi endotel pembuluh darah. Ada kemungkinan fibrinogen diperlukan
dalam suatu proses metabolisme tertentu, akan tetapi hal ini belum dapat
dibuktikan secara eksperimental (Hariono, 1993).

 

Anemia

Anemia didefinisikan sebagai berkurangnya jumlah sel darah
merah dan secara praktis dapat didefinisikan sebagai berkurangnya nilai PCV,
konsentrasi hemoglobin atau jumlah sel darah merah dibawah nilai rekomendasi
normal untuk tiap-tiap spesies. Anemia bukan suatu diagnosis melainkan
pencerminan dari dasar perubahan patofisiologi (Nelson dan Cauto, 2003;
Bradford, 2003).

            Gejala klinis anemia meliputi,
mukosa pucat, lemah, tachycardia dan polypnea (bernafas dengan cepat dan
frekwen), peka terhadap dingin, bila sepertiga volume darah hilang maka hewan
akan shok serta terlihat ikterus, hemoglobinuria, hemoragi dan demam (Hariono,
1993).

            Hiperkromik merupakan suatu keadaan
yang harus dihindari, karena peningkatan yang signifikan dari konsentrasi MCHC.
Hipokromik merupakan suatu keadaan yang menggambarkan suatu gambaran darah
dengan eritrosit yang mempunyai konsentrasi MCHC atau indeks kejenuhan dan
biasanya MCH atau indeks warna dibawah normal. Makrositik merupakan suatu
gambaran darah dengan eritrosit yang mempunyai MCV melebihi kisaran normal.
Mikrositik merupakan suatu gambaran darah dengan eritrosit yang mempunyai MCV
di bawah kisaran normal. Normositik dan normokromik adalah suatu gambaran darah
dengan MCV dan MCHC dalam kisaran normalnya (Benjamin, 1979).

            Klasifikasi anemia berdasar konsentrasi MCV dan
MCHC yaitu: 1) anemia normositik normokromik yaitu eritrosit berukuran dan
berbentuk normal, MCV dan MCHC normal atau normal rendah. Anemia ini
berhubungan dengan proses perdarahan atau hemolisis pada serangan awal; 2)
anemia makrositik hipokromik yaitu eritrosit lebih besar dari normal, MCV
meningkat dan MCHC menurun; 3) anemia makrositik normokromik yaitu eritrosit
lebih besar dari normal, MCV meningkat dan MCHC normal. Anemia makrositik
normokromik mengidentifikasikan adanya defisiensi vitamin B 12 atau defisiensi
folat; 4) anemia mikrositik hipokromik yaitu eritrosit lebih kecil dari normal,
MCV dan MCHC rendah. Biasanya didiagnosa pada defisiensi besi (Fe) yang cukup
menghalangi produksi hemoglobin (Willard dan Tvedten, 1999).

Anemia mikrositik normokromik dapat disebabkan oleh adanya
gangguan sintesis hemoglobin karena penyakit syphilis dan infeksi kronis,
sepsis, keracunan zat kimia, nefritis, X-ray dan radium. Anemia normositik
normokromik dapat disebabkan oleh penyakit kudis dan pallarga. Sebab yang lain
adalah myxodema dan thyrotoxicosis karena defisiensi tiroksin. Bisa juga
disebabkan karena perdarhan akut, perdarahan ulangan, X-ray dan radium, serta
keracunan dapat menyebabkan terjadinya anemia aplastika sekunder. Anemia
mikrositik normokromik dapat disebabkan oleh hemolisin pada penyakit malaria,
demam Oroya, gas gangrene, hemoglobinuria dan anemia idiopatik hemolitik
(Whitby dan Britton, 1953).

Klasifikasi anemia menurut patofisiologi:1) anemia
perdarahan, umumya merupakan hasil dari kehilangan eritrosit dan protein
plasma, sifatnya ada yang akut dan kronis; 2) anemia hemolitik, tersifat dengan
adanya kerusakan eritrosit yang bersirkulasi, misalnya disebabkan oleh parasit
darah, bakteri, virus dan riketsia, obat dan zat kimia, tanaman beracun,
penyakit metabolik, defek intraeritrositik, serta kerusakan imunitas; 3) anemia
hipoproliferatif, merupakan hasil dari efektifitas eritropoisis yang menurun,
jangka waktu hidup eritrosit umumnya normal pada anemia pedarahan dan anemia
hipoproliferatif, disebabkan oleh defisiensi nutrisi, radang, kerusakan organik
atau jaringan, penyakit parasitik, anemia aplastika atau hipoplastik dan
kerusakan myeloproliferatif (Jain et all., 1986).

 

Tabel
1. Klasifikasi anemia dan penyebabnya.

Klasifikasi

Etiologi

Makrositik
Normokromik

1.     
Defisiensi Cobalt (vitamin B12)

2.     
Porphyrinuria kongenital

Makrositik
Hipokromik

1.      kondisi sementara yang terjadi
selama fase aktif dari regenerasi eritrosit mengikuti perdarahan akut atau
destruksi eritrosit

·       
Perdarahan spontan dari hipoprotrombinemia yang disebabkan oleh
semangi busuk.

·       
Bacillary hemoglobinuria

·       
Leptospirosis

·       
Parturient hemoglobinuria

·       
Anaplasmosis

·       
Infeksi Haemobartonella

Normositik
Normokromik

 

 

 

 

 

Normositik
Hipokromik

Atau

Mikrositik
Normokromik

1.     
Radang sub akut atau kronik

2.     
Perdarahan akut tanpa disertai
respon sumsum tulang belakang yang hebat.

3.     
Nephritis dengan uremia

4.     
Infeksi cacing lambung yang
menyebabkan kehilangan darah.

5.     
Leukemia atau kerusakan sumsum
yang lain.

6.     
Anemia hipoblastik

·       
Keracunan kedelai yang
diektraksi dengan trichloroethylene.

·       
Radiasi

Mikrositik
Hipokromik

1.     
Defisiensi besi (Fe)

·       
Perdarahan kronik dari luka
pembuluh darah yang tidak dapat sembuh.

·       
Infeksi berat dari parasit
penghisap darah.

·       
Diet yang kekurangan besi (Fe).

2.     
Defek dari penggunaan simpanan
besi (Fe)

·       
Defisiensi Copper

·       
Keracunan Molybdenum

                                                                                                            (Coles,
1986).

Klasifikasi anemia menurut respon eritropoisisnya: 1)
anemia responsif atau anemia regeneratif, merupakan anemia yang menimbulkan
suatu respon sumsum tulang dengan meningkatkan produksi eritrosit, ditemukan
polikromasia dan retikulosit; 2) anemia nonresponsif atau anemia
nonregeneratif, anemia yang tidak menimbulkan respon sumsum tulang,
polikromasia dan retikulosit tidak ditemukan (Duncan dan Prasse, 2000).

 

Tekanan Darah

Tekanan darah dapat juga ditentukan sebagai tekanan
terhadap pembuluh darah yang disebabkan oleh pemompaan jantung pada aliran
darah ke seluruh tubuh (Anonim, 2007). Tekanan darah terbagi menjadi menjadi 3
unsur yaitu sistole, diastole, dan rata-rata tekanan arterial
(Battaglia, 2007).
Pembuluh
darah yang menyalurkan darah ke seluruh tubuh disebut arteries,
sedangkan yang membawa darah yang telah terpakai kembali ke jantung disebut veins.
Arteri bersifat kuat dan elastis, sehingga dapat menahan tekanan darah yang
dipompa ke dalamnya. Arteri bercabang-cabang sampai pada pembuluh yang sangat
halus dan kuat dindingnya, berperan sangat penting di dalam mengatur tekanan
darah. Naik dan turunnya gelembung tekanan darah seirama dengan pemompaan
jantung untuk mengalirkan darah di pembuluh arteri (Anonim, 2008).
 Tekanan darah awal yang dihasilkan oleh
kontraksi ventrikel jantung (dilatasi) dinamakan sistole, dan menurun
sampai pada tekanan terendah yaitu saat jantung tidak memompa (relaksasi) ini
disebut diastole. Tekanan yang ditimbulkan oleh dinding arteri akan
digunakan untuk mempertahankan tekanan diastole dalam arteri dan akan
mengalirkan darah ke kapiler saat ventrikel relaksasi (
Frandson,
R.D, et al, 2003).

Tekanan darah akan berubah-ubah tergantung pada aktivitas tubuh.
Biasanya tekanan darah terendah terjadi saat tidur dan tertinggi jika
terangsang maupun stress. Tekanan darah yang selalu berubah dapat menyulitkan
pengukuran yang tepat, sehingga perlu diadakan pengukuran berkali-kali.
Pengukuran yang tidak tenang dapat meningkatkan tekanan darah sesaat, maka
pengukuran pada saat ini tidak dapat dijadikan acuan
(Anonim, 2008 a).

            Beberapa faktor yang membantu menentukan tekanan
darah adalah jumlah darah yang dipompa dari jantung semakin banyak dari setiap
menitnya (cardiac output) maka semakin tinggi tekanan darah. Banyaknya
darah yang dipompa mungkin berkurang jika irama jantung melambat atau
kontraksinya melemah, seperti yang bisa terjadi setelah serangan jantung (infark
miokardium
). Denyut jantung yang sangat cepat, yang bisa mengurangi
efisiensi pompa jantung. Adanya Kehilangan darah karena dehidrasi atau
perdarahan bisa mengurangi volume darah dan menurunkan tekanan darah. Semakin
kecil kapasitas pembuluh jantung maka 
semakin tinggi tekanan darah. Dilatasi pembuluh darah dapat menyebabkan
menurunnya tekanan darah dan sebaliknya (Anonim, 2008 a).

            Bebarapa
indikasi dari pengukuran tekanan darah yaitu adanya kecenderungan pada pasien
yang mengalami abnormalitas cardiovaskular (shock, penyakit jantung,
sindrom keradangan sistemik ataupun sindrom disfungsi multipel organ), pasien
mengalami perubahan status klinik, saat pasien teranestesi, saat pasien
dilakukan ventilisasi mekanik, serta jika pasien dengan penyakit primer yang
berhubungan dengan hipertensi seperti gagal ginjal kronis, hiperthyroidsm,
hiperadrenocorticism (Cushing’s syndrome)
(Battaglia, 2007).

Pengukuran tekanan darah dapat
dilakukan dengan metode langsung maupun tidak langsung. Metode langsung
dilakukan dengan memasukkan kateter pada a. Karotid kemudian dihubungkan
dengan transduser mekanik dan arus listrik pada amplifier dan perekam.
Metode tidak langsung dilakukan dengan penempatan sensor pada posisi distal
dari cuff (manset) yang dipasang dan tranduser mekanik untuk menentukan
pulsus dalam arteri kemudian dihubungkan ke amplifier sehingga dapat mengetahui
nilai tekanan sistole dan diastole. Caranya yaitu pada kaki depan
dengan dililitkan cuff (manset) untuk menghentikan  aliran darah di dalam arteri, apabila alat
ini dipompa maka akan terjadi tekanan dan adanya tekanan yang terjadi saat
darah mengalir pertama kali sesaat setelah cuff tersebut dilepas, ini
merupakan tekanan sistole, kemudian setelah tekanan ini dilepas
merupakan tekanan diastole. Cara pengukuran tidak langsung ini kurang
akurat. Nilai sistole normal anjing dengan rata-rata  110-160 mmHg sedangkan nilai diastole
normal anjing dengan rata-rata 50-100 mmHg. Dalam keadaan hipertensi nilai
tekanan diatas 170/110 mmHg, jika tekanannya terlalu tinggi, bisa merobek
pembuluh darah dan menyebabkan perdarahan di dalam otak (stroke hemoragic).
Sedangkan dalam keadaan hipotensi nilai tekanan dibawah 90/50 mmHg, jika
tekanannya terlalu rendah, maka darah tidak dapat memberikan oksigen dan zat
makanan yang cukup untuk sel dan tidak dapat membuang limbah yang dihasilkan
sebagaimana mestinya
(Anonim, 2007) (Anonim, 2008 a).

 

Kesembuhan Luka

Luka adalah rusaknya kontinuitas jaringan pada bagian tubuh
dan biasanya dihasilkan oleh faktor luar, trauma ini biasanya terjadi pada
kulit, jaringan subkutan, otot, fascia dan liogamenta (Archibald, 1974). Tahapan kesembuhan luka adalah sebagai berikut :

Tahapan inflamasi

Inflamasi merupakan perlindungan jaringan sebagai respon
dari kerusakan. Pada tahapan ini memiliki karakteristik meningkatkan
permeabilitas vaskuler, kemotaksis pada sirkulasi, menghasilkan sitokin, faktor
pertumbuhan dan mengaktivasi sel (makrofag, limphosit, dan fibroblas).
Pembersihan pendarahan dan perbaikan luka
dengan segera setelah terjadi luka. Penyempitan pembuluh darah selama 5 sampai
10 menit sampai batas pendarahan tapi kemudian membesar dan meloloskan
fibrinogen dan terjadi penggumpalan darah pada luka. Adapun mekanisme koagulasi
secara ekstrinsik diaktivasi oleh thromboplastin yang dikeluarkan dari luka.
Fibrin dan transudat plasma berada didalam luka, saat pembekuan darah,
inflamasi lokal dan tepi luka. Pembekuan darah memiliki susunan yang
stabil  pada tepi luka dan memiliki batas
luka, mencegah terjadinya luka selanjutnya dengan diikuti dengan kesembuhan di
bawah permukaan luka. Tahapan inflamasi sel antara lain trombosit, mast sel, dan
makrofag yang mensekresi faktor pertumbuhan atau sitokin, dimana menginisiasi
dan menjaga dari fase kesembuhan. Perantara dari inflamasi diantarannya
(histamin, serotonin, sistem proteolitik, thromboxane dan faktor pertumbuhan
pada kasus inflamasi dimulai segera setelah luka sekitar 5 hari. Sel darah
putih yang keluar dari pembuluh darah yang diinisiasi oleh luka untuk kemudian
masuk ke dalam tahapan debris.

Tahapan debris

Neutrofil dan monosit
ditunjukkan pada luka (kira-kira 6 jam dan 12 jam setelah luka) dan
menginisiasi debris. Neutrofil meningkat 2 sampai 3 hari untuk mencegah infeksi
dan serpihan organisme dan serpihan oleh fagositosis. Perbaikan netrofil
dikeluarkan enzim merupakan fasilitas penurunan dari serpihan ekstraselular dan
material nekrosis yang dipicu dengan monosit. Monosit menjadi makrofag dalam
luka 24 – 48 jam. Makrofag merupakan kolagen, menghilangkan jaringan nekrosis,
bakterial dan material dari luar. Dan juga mensekresikan kemotatik dan faktor
pertumbuhan. Faktor pertumbuhan (trombosis, faktor  α, faktor β, fibroblas, dan interleukin I)
menginisiasi, menjaga, dan mengkoordinasi susunan dari jaringan granulasi.
Faktor kemotatik (komplemen, fragmen kolagen, endotoksin bakterial, produk sel
inflamasi) secara langsung makrofag menyerang jaringan yang luka. Makrofag
selalu mengambil sel mesenkimal, menstimulasi angiogenesis, dan memproduksi
matrik di dalam luka. WBC akan mengeluarkan faktor pertumbuhan yang penting
untuk aktivitas fibroblas. Selanjutnya limfosit ditampilkan dalam tahapan
debris kemudian netrofil dan makrofag. Dan juga mensekresi faktor pelarut
dengan mestimulasi atau menghambat migrasi dan sintesis protein oleh sel
lainnya. Kesembuhan luka akan mengalami kesulitan bilamana kerusakan yang
sangat berat pada saat fungsi makrofag tertekan, menurunnya netrofil,
menurunnya limfosit tetapi tidak mempengaruhi kesembuhan atau perkembangan
kekuatan dalam luka.

Tahapan perbaikan

Makrofag menstimulir DNA dan
fibroblas. Dalam jaringan yang isinya oksigen 20 mmHg dan juga menstimuli
fibroblas dan sistem kolagen.
Fibroblas mula-mula dari mesenkimal yang tidak bisa dibedakan dengan sel
mesenkimal. Fibroblas distimuli dengan perpindahan faktor
β yang memproduksi fibronecti, dimana di fasilitasi di pinggiran sel dan
perpindahan fibroblas. Perpindahan fibroblas ke dalam luka hanya bagian depan
pada pembuluh darah baru pada tahapan inflamasi (2 – 3 hari). Kemudian bergerak
ke luka untuk mensintesis dan mendeposit kolagen pada awalnya meningkat dalam
luka yang sudah menguat. Sejumlah kolagen dapat ditemukan maksimum 2 – 3 minggu
setelah terjadinya luka. Sebagai kolagen yang terdapat pada luka, fibroblas dan
rata-rata sintesis kolagen menurun, nilai ini menandakan pada tahapan
perbaikan. Jarak fibroplastik pada kesembuhan 2 sampai 4 minggu, tergantung
pada kondisi luka. Perpindahan fibroblas, proliferasi, produksi kolagen, dan
perkembangan kapiler terlambat jika makrofag tidak ada. Pembuluh darah yang
menyerang luka diikuti dengan perpindahan fibroblas, pembuluh darah dan unit
kapiler lain. Pembuluh darah yang baru akan meningkatkan tekanan oksigen dalam
luka dan memperbanyak fibroblas. Aktivitas mitotik pada daerah yang berdekatan
dengan sel mesenkimal meningkat, darah dimulai dengan dengan aliran pada
kapiler yang baru. Perkembangan limpatic sama dengan kapiler tapi lebih
lambat.Pengaliran limpatik pada luka dan sedikit pada awal luka. Kombinasi
kapiler baru, fibroblas, jaringan fibrous dan jaringan granulasi 3 – 5 hari
setelah luka. Jaringan granulasi merupakan bentuk di tiap tepi luka rata-rata
0,4 – 1 mm/hari. Jaringan granulasi yang tidak sehat berwarna putih akan
mempunyai jaringan fibrous yang tinggi yang isinya terdapat beberapa kapiler
jaringan granulasi yang masuk ke dalam jaringan yang rusak dan melindungi luka.
Ini juga menjadi batas terhadap infeksi, pada permulaan migrasi epitel dan
sumber fibroblas yang spesial dan memanggil myofibroblas yang mana berperan
penting dalam penutupan luka. Myofibroblas diyakini berisi protein (aktin dan
miosin) yang memiliki kontribusi untuk penyusutan luka. Myofibroblas tidak akan
ditemukan pada jaringan yang normal dan pada jaringan luka yang sudah menutup.

Epithelium adalah pembatas
yang penting terhadap infeksi luar dan cairan dari luar. Perbaikan epitel
meliputi mobilisasi, migrasi, proliferasi dan perbedaan sel epitel. Pembentukan
epitel dimulai 24 – 48 jam dalam jahitan pada luka dengan adanya pertautan tepi
sampai tepi. Pada luka terbuka pembentukan epitel dimulai ketika granulasi
cukup dan memiliki bentuk (4 – 5 hari). Glikoprotein yang larut air ditemukan
pada epidermis, menghambat sel epitel dalam jaringan normal tapi ini akan
berkurang pada saat luka terjadi yang mana membolehkan sel epitel sepanjang
pinggir luka untuk dibagi dan bertukar dengan jaringan granulasi. Faktor
lainnya dengan mensekresi trombosis, makrofag dan fibroblas. Peningkatan
aktivitas sel mitotik terjadi pada awal 24 – 48 jam. Migrasi epitel secara acak
tapi dipandu oleh fiber kolagen. Migrasi sel epitel diperluas diratakan dan
darahkan masuk ke membran dasar dan beberapa epithelial lainnya. Sel basal pada
tepi luka berkembang mikrovili dan diperluas oleh pseudopodia ditunjukkan pada
permukaan bundel kolagen. Dan berkembang menjadi mikrofilamen intrasitoplasmik
dan selektif dalam memperbaiki antibodi. Setelah membran dasar terbentuk sel
epitel menjadi padat, perkembangan pembelahan dan berkembangbiak terbagi
menjadi tingkatan-tingkatan epitelium squamus. Perbaikan tergantung ukuran dari
rusaknya kulit. Migrasi epithel terjadi sepanjang jahitan yang mana peranan
penting dari reaksi tubuh dan meninggalkan jaringan parut. Epitel baru biasanya
akan terlihat 4 – 5 hari setelah luka. Pembentukan epitel akan terjadi lebih
cepat pada lingkungan yang basah daripada kondisi yang kering. Hal ini tidak
akan terjadi berlebihan pada jaringan yang tidak hidup.
Migrasi epitel adalah tergantung pada energi dan
hubungan dengan tekanan oksigen. Kekurangan oksigen mencegah migrasi epitel dan
mitosis oleh karenanya perlu meningkatkan terapi oksigen untuk meningkatkan
migrasi. Pengecilan luka dapat mengurangi ukuran luka dengan kontraksi pada
myofibroblas dalam jaringan granulasi yakni kontraksi secara simultan dengan
granulasi dan pembentukan epitel. Secara sentripetal dari tengah ke bagian tepi
dan di dorong ke dalam oleh kontraksi dari luka dimungkinkan kelihatan lebih
kecil 5 – 9 hari setelah luka. Rata-rata kontraksi 0,6 – 0,7 mm per hari. Batas
pengecilan luka jika kulit sekitar sudah diperbaiki, tidak elastis dan adanya
jika perkembangan atau fungsi dari myofibroblas rusak. Pengecilan dapat juga
dirusak oleh antiinflamasi steroid, obat antimikrotubuler dan relaksasi dari
otot halus. Pengecilan luka akan berhenti ketika tepi luka bertemu atau tekanan
yang berlebihan atau ketika myofibroblas tidak cukup.

Tahapan pematangan

Kekuatan luka meningkat
mencapai level maksimum dengan adanya pergantian bekas luka selama tahapan pematangan
dalam kesembuhan luka. Pematangan luka dimulai 
dengan kolagen sudah cukup berada di dalam luka (17 – 20 hari setelah
luka) dan bisa dilanjutkan beberapa tahun. Fiber  memodel ulang dengan mengubah orientasi dan
meningkatkan kros-lingking dimana mengubah kekuatan luka. Tipe III kolagen
diturunkan dan tipe I ditingkatkan. Kekuatan jaringan normal tidak pernah
diperoleh dalam luka; kira-kira 80 % kekuatan asli mungkin diperoleh. Kapiler
di dalam jaringan fibrous berkurang, bekas luka menjadi memiliki batas. Batas
luka secara seluler berkurang, rata dan lebih lembut selama tahapan pematangan
(Fossum, 2002).

            Kesembuhan luka dipengaruhi oleh faktor lokal, umum dan sistemik.
Faktor lokal meliputi adanya gangguan vaskularisasi, inervasi saraf, trauma jaringan,
hematoma, lama operasi, adanya infeksi, benda asing dan aposisi tepi luka yang
kurang akurat. Faktor umum meliputi adanya defisiensi makanan, dehidrasi,
gangguan keseimbangan hormonal, penyakit hati, ginjal dan jantung. Faktor
sistemik meliputi adanya defisiensi protein, vitamin A, Vitamin C, Vitamin E,
zink, kegemukan, anemia, leupenia, faktor keturunan, gangguan hormonal dan umur
(Archibald, 1974).

 

Obat Yang Digunakan

Ampicilin

Ampicilin merupakan salah satu derivate penicillin semi
sintetik yang paling penting. Ampicilin mempunyai aktivitas bakterisid broad
spektrum terhadap bakteri gram positif dan negative seperti E. coli,
Klebsiela dan Haemophilus
. Seperti penicillin alami, ampicilin dapat
diaktifasikan dengan
β-lactamase (penicilinase) yang dihasilkan oleh bakteri, seperti
Staphylococcus aureus, dan sebagian bakteri gram negative seperti E. coli
(Plumb, 1999; Darmansjah, 2000). Walaupun tidak seaktif penicillin alami,
ampicilin mampu melawan banyak bakteri anaerobic. Dosis yang digunakan adalah
22-33mg/kg berat badan secara peroral dan dengan dosis 10-20 mg/kg berat badan
pemberian secara parenteral (Plumb, 1999). Ampicilin yang diberikan peroral
diabsorpsi tidak lebih dari setengahnya, dan lebih rendah lagi jika ada makanan
dalam lambung (Darmansjah, 2000). Pemberian peroral mencapai puncak konsentrasi
setelah dalam jangka waktu 2 jam. Didistribusikan ke seluruh tubuh meskipun
hanya sebagian kecil yang masuk ke cairan cerebrospinal dan konsentrasi yang
tinggi terdapat di hati dan ginjal (Brander et al, 1991).


Alcohol 70%

Merupakan antiseptic umum, pelarut yang baik dan
desinfektan. Jika diaplikasikan secara lokal pada jaringan, alcohol mempunyai
efek anti bakteri dan germicid yang kuat. Alcohol banyak dipakai dalam
persiapan operasi, persiapan penyuntikan dan pencucian alat kedokteran untuk
tujuan sterilisasi. Untuk meningkatkan daya bunuh kuman alcohol sering
dikombinasikan anti septic lain karena sifatnya sinergik (Brader et al.,
1991; Subronto dan Tjahajati, 2001).

Salep isodine

Salep ixodine mengandung povidone iodium 10% yaitu suatu
larutan organic dari polivinil pirolidone, yang bekerja sebagai desinfektan dan
antiseptic lokal. Mampu membunuh jamur, virus, protozoa, dan spora (Brander et
al., 1991).

Salep ini biasa digunakan untuk ulkus dekubitus, ulkus
diabetukus, mencegah dan mengobati infeksi pada luka bakar, desinfektan pada
pemasangan kateter dan infuse (Winotopradjoko, 2000).

Yodium tincture

Iodine tincture 2 % sering
disebut juga ethyl alkohol solution. Yodium tincture dipakai sebagai antiseptik
pada kulit lecet dan luka serta antiseptik sebelum tindakan bedah. Kemampuan
yodium menembus dinding sel kuman sangat tinggi sehingga terjadi gangguan
metabolisme sehingga protoplasma kuman akan mati.
Kuman mati di dalam larutan 50
ppm selama 1 menit, spora kuman mati dalam waktu 15 menit (Brander et al,
1991).

Sediaan yodium yang banyak
digunakan adalah yodium tincture dan lugol. Kedua larutan tersebut apabila
terkena luka akan menyebabkan rasa perih, dapat merusak alat (korosif) serta
meninggalkan warna pada jaringan atau kain. Zat yang mengandung alkohol ini
akan merangsang kulit yang lecet sehingga terasa perih. Oleh karena itu
dikembangkan obat baru yang kurang merangsang kulit yaitu beriod (betadine)
yang dikemas dalam spray salep atau solutio. Betadine berisi povidine iodine
10%. Iodine apabila kontak dengan kulit akan menyebabkan iritasi, kulit
kemerahan, kulit kering terasa panas dan seperti terbakar serta dermatitis.
Pemakaian yodium dalam waktu lama akan menyebabkan gangguan reproduksi, hati,
sistem syaraf, saluran respirasi dan sel darah (Brander et al, 1991).

 


MATERI DAN METODE

Materi

Persiapan pra-operasi

Sebelum dilakukan operasi ada
beberapa hal yang harus dipersiapkan dengan baik yaitu persiapan alat,
persiapan obat, persiapan hewan yang akan digunakan dan persiapan operator dan
kooperator.

Persiapan alat

            Untuk memenuhi syarat operasi yang aseptis,
alat yang digunakan harus dalam keadaan steril.
Alat yang akan digunakan untuk operasi antara
lain:

·       
Silet

·       
Scalpel +
blade

·       
pinset anatomis

·       
pinset chirurgis

·       
arteri klem

·       
gunting operasi (lurus dan
bengkok)

·       
allise forceps

·       
roceste
pean

·       
mosquito
forceps

·       
carmalt
forceps

·       
ochner
forceps

·       
duk klem

·       
needle holder

·       
spuit dissposible 3 cc dan 5 cc

·       
jarum jahit (bulat dan segitiga)

·       
benang (catgut chromic, catgut
plain dan katun)

·       
duk
steril

·       
kapas dan tampon

Persiapan obat

Obat-obatan yang digunakan
dalam operasi ini meliputi :

·       
Atropin sulfat 0,025% dosis 0,04
mg/kg BB

·       
Ketamin 10% dosis 15 mg/kg BB

·       
Xylazine 2% dosis 2 mg/kg BB

·       
Alkohol 70%

·       
Iodium tincture 3%

·       
Salep Isodine

·       
Injeksi Ampicillin 10% dosis 5-10
mg/kg BB

·       
Larutan Penstrep

·       
Larutan PK
4%

Persiapan meja dan alat
operasi

Sebelum operasi maka meja dan
alat-alat operasi disterilisasi terlebih dahulu. Alat-alat operasi dalam
keadaan steril diletakkan di meja khusus secara berurutan dan rapi di dekat
meja operasi.

Persiapan hewan

Persiapan
yang dilakukan sebelum pelaksanaan operasi meliputi :

-        
Hewan
(anjing) dipuasakan dengan tidak diberi makan 6-12 jam sebelum operasi dan tidak
diberi minum 2-6 jam sebelum operasi.

-        
Dilakukan
pemeriksaan umum dan pemeriksaan darah untuk mengetahui kondisi kesehatan hewan
(anjing) dan dilakukan penimbangan berat badan

-        
Sebelum
operasi dilakukan hewan (anjing) diberi premedikasi dengan injeksi Atropin
sulfat 0,025% dosis
0,04 mg/kg BB secara subcutan dan ditunggu 15 menit. Diketahui berat badan anjing 3,8 kg sehingga atropin sulfat yang
digunakan sebanyak 0,53 cc

-        
Setelah
hewan terlihat tenang maka dilakukan pencukuran rambut didaerah caudal midline
sampai pada sekitar penis. Daerah yang sudah dicukur kemudian dibasuh air
kemudian diolesi alkohol dan iodium tincture secara sirkuler dari sentral ke
perifer.

-        
Setelah 15 menit diinjeksi atropin
sulfat kemudian diinjeksikan ketamin yang dikombinasikan dengan xylazin.
Ketamin yang digunakan dosis 10 mg/kg BB dengan konsentrasi 10% sedangkan
xylazin dosis 2 mg/kg BB konsentrasi 2 %. Dari hasil penghitungan diperoleh
hasil volume ketamin yang digunakan 0,50 cc dan xylazin sebanyak 0,33 cc.
kemudian dicampurkan dalam satu spuit dan diinjeksikan secara intramuskuler.

 

Persiapan operator dan Co-operator

Operator dan co-operator harus dalam keadaan
steril sebelum dan selama operasi berlangsung. Tangan dicuci menggunakan air
sabun kemudian dicelup menggunakan larutan 
PK (Kalium Permanganat). Selama operasi, operator dan cooperator
menggunakan sarung tangan, masker dan gaun operasi juga cap untuk meminimalkam
adanya kontaminasi.


Metode

 

Pelaksanaan Operasi

Hewan diletakkan dalam posisi rebah
dorsal dengan keempat kakinya diikatkan pada meja operasi dengan bantuan tali
untuk mempertahankan posisi. Daerah pada linea alba diolesi alcohol secara
sirkuler dari arah sentral ke perifer dan ditunggu selama 2 menit setelah itu
dilakukan pengolesan menggunakan iodium tincture dengan cara yang sama.
Pengukuran tekanan darah dilakukan pada saat operasi selama 10 menit sekali.

Duk dipasang pada bagian bawah tubuh
hewan, kemudian kiri, atas dan yang terakhir pada bagian kanan hewan, tatanan
duk terbebut dipertahankan menggunakan duk klem.

Irisan pada dinding abdomen dilakukan
lewat caudal mid line tepat pada belakang umbilicus kearah caudal kurang lebih
6-12 cm dengan scalpel.

Sebelum dilakukan irisan pada linea
alba, musculus yang terletak pada kanan garis median dijepit dengan allis
forcep kemudian gengam menggunakan gunting atau scalpel dibuat irisan kecil
pada linea alba.

Dengan menggunakan gunting dan tangan
pemandu irisan pada linea alba diperpanjang secukupnya. Setelah itu irisan
dikuakkan dengan menggunakan allis forcep sampai rongga abdomen terbuka dan
tarik keluar colon yang akan di operasi, kemudian kaitkan colon (hanya menembus
seromukosa) pada dinding abdomen pada bagian lateral dengan benang katun secara
sederhana tunggal menggunakan benang cut gut chromic sejumlah 3 jahitan.

Jahitan di lanjutkan dengan menutup
bagian abdomen yang terbuka, mulai dari peritoneum dan linea alba dengan
menggunakan benang katun secara sederhana tunggal, diteruskan dengan menutup
subcutan menggunakan benang cut gut plain secara sederhana menerus. Lapisan
terluar yakni kulit dijahit menggunakan benang katun secara sederhana tunggal.
Bekas jahitan di beri salep isodine.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Pemeriksaan Umum Sebelum Operasi

Tanggal 27 Maret 2008 telah dilakukan pemeriksaan
terhadap seekor anjing jantan berumur kira-kira 2 bernama Riri dengan
berat badan 3.3 kg. Dari pemeriksaan umum tersebut, diperoleh bahwa ekspresi
muka ceria, kondisi tubuh gemuk, frekuensi nafas: 28x/menit, frekuansi pulsus:
140x/menit, panas badan: 37,5°C. Kulit rambut tidak rontok, pada kulit
ditemukan banyak bekas luka gigitan kutu, turgor kulit normal. Conjungtiva mata
normal, CRT (Capillaria Refill Time) kurang dari 2 detik. Tidak
terdapat  pembengkakan lgl.submandibula
superficialis dexter–sinister. Pernafasan tipe thoraco abdominal. Auskultasi
jantung suara sistole dan diastole dapat dibedakan dengan normal. Mulut
bersih,  anus bersih. Palpasi ginjal
tidak ada rasa sakit. Refleks palpebra, pupil dan pedal baik. Dapat berdiri dan
berjalan baik dengan 4 kaki secara normal. Berdasarkan dari hasil pemeriksaan
maka anjing tersebut dapat dilakukan operasi.

 

 

 

 

 


Pemeriksaan Darah

 

Tabel 2. Hasil pemeriksaan
darah sebelum
operasi.

 

Komponen

Hasil

Normal

Interpretasi

Hematokrit / PCV (%)

14

48,5-59,3

Anemia

Hemoglobin (gr/dl)

4.8

15,3-18,9

Anemia

Eritrosit (juta/mm3)

2,0775

5,78-8,18

Anemia

MCV (µ3/fL)

70

72,381,3

Anemia

MCHC (%)

24

28,734,7

 

WBC (x103/μL)

37,05

6-15*

Normal

Neutrofil segmented

 

Relatif 
(%)

89

31,8-90,6

 

Normal

Absolut (sel /mm3)

-

5000-10800

 

Eosinofil

Relatif 
(%)

-

0-10,8

 

 

Absolut (sel /mm3)

-

370-840

 

Monosit

Relatif 
(%)

4

2,12-2,52

 

Monositosis

Absolut (sel /mm3)

-

190-410

 

Limfosit

Relatif 
(%)

7

17,3-42,1

 

Limfopenia

Absolut (sel /mm3)

-

2400-5260

TPP (gr/dl)

4.3

4,9-9,6

Proteinemia

Fibrinogen (mg/dl)

200

100-500

Normal

 

* Feldman, B. F.; Zinkl, J. G. Dan Jain, N. C.. 2000. Schalm’s Veterinary Hematology 5th
Edition.
Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia
.

** Mitruka, B.M. dan Rawnslay, 1981. Clinical
Biochemical and Hematological Reference Value in Normal Experimental Animal and
Normal Humans
. 2nd Ed. Year Book Medical Publisher, Chicago
.

 

Berdasarkan
pemeriksaan hematologi anjing ”Riri” sebelum dilakukan operasi menderita anemia
mikrositik-hiperkromik disertai, limfopenia, monositosis.

            Anjing”Riri”
pada pemeriksaan darah mengalami anemia mikrositik-hiperkromik, kemungkinan
terjadi dikarenakan  dari MCV  turun karena defisiensi Fe, hal ini dapat
dikarenakan adanya penyakit cacing yang kronis, gangguan
absorbsi Fe dan defisiensi Cu.. Limfositopenia dapat
dikarenakan anjing
mengalami
eksitasi, takut,stress, dapat pula terjadi karena adanya infeksi kronik. Monositosis juga terjadi
pada pemeriksaan darah, hal ini dikarenakan  terjadinya gangguan-gangguan yang menciri
dengan meningkatnya kebutuhan jaringan untuk proses fagositosis
makromolekul/partikel atau pada kondisi yang 
berhubungan dengan imunitas seluler, respon ini bisa berjalan akut atau
kronis.

Pengukuran Tekanan Darah

Sebelum  dan selama dioperasi dilakukan pengukuran
tekanan darah dapat dilihat pada Grafik I.

Grafik 1. Tekanan
darah  hewan selama operasi setiap 10
menit

           

Pengukuran
tekanan darah menunjukkan tekanan darah selama operasi.
Awal pengukuran tekanan darah
anjing “Riri” mengalami penurunan pada pengukuran kedua dan sampai pengukuran
yang ke lima.
Peningkatan tekanan darah ditunjukan pada pengukuran yang ke enam sampai
seterusnya.

            Setelah dilakukan operasi, dilakukan pemeriksaan suhu tubuh
setiap 10 menit. Hasil pemeriksaan suhu tubuh anjing “Riri” selama operasi,
terlihat pada grafik 2 berikut ini:

Grafik 2. Pengukuran suhu
tubuh selama operasi setiap 10 menit

Pengukuran
suhu operasi, tepatnya dimulai setelah anastesi. Pada 10 menit pertama suhu
anjing”Riri” menunjukkan 37,3 ºC dan mengalami penurunan pada 10 menit kemudian
yaitu 37,2 ºC. Pada pengukuran berikutnya masih menunjukkan penurunan suhu menjadi
36,3 ºC, 10 menit berikutnya (menit ke 40) menunjukkan suhu 34,8 ºC hingga
menit ke 60 mencapai suhu terendah 32 ºC dan meningkat kembali hingga menit ke
90 mencapai 34 ºC. Operasi selesai pada pukul 11.30.


Berikut
terlihat gambaran pengukuran suhu pasca operasi, grafik 3:

Grafik 3. Pengukuran suhu
hewan pasca operasi

            Pengukuran
temperatur pasca operasi pada 11.50, 20 menit setelah operasi selesai menunjukkan
35,2 ºC hewan mengalami hypotermi pada pasca operasi adalah normal karena
perubahan metabolisme, dengan hal ini anjing ”Riri” di masukkan ke dalam
inkubator agar suhu bisa segera normal, selain itu hewan juga diinfus
menggunakan RD untuk memperbaiki cairan dan metabolisme tubuh. Pada pukul 12.30
suhu menunjukkan 35,2 ºC dan pada 12.40 menunjukkan 35,4 ºC, suhu menunjukkan
kenaikan setelah hewan di masukkan pada inkubator. Pada 12.50 mengalami
kenaikan hingga mencapai 35,5 ºC dan 13.00 terukur 35,8 ºC, dan pada 13.10
mencapai 37.3 ºC hingga pukul 13.20 mencapai 37.8 ºC hal ini menandakan bahwa
suhu dari anjing ”Riri” telah mencapai kisaran normal (
37,8
– 39,5 0C
) (Surono dkk, 2003).

           


Monitoring terhadap suhu dari
anjing “Riri” selama perawatan setelah operasi dapat terlihat pada grafik 4:

Grafik 4. Pengukuran suhu
hewan tujuh hari pasca operasi.

 

Terlihat pada
grafik 5, bahwa monitoring suhu yang dilakukan selama 7 hari setelah operasi
anjing ”Riri” berada dalam kisaran normal, yakni pada hari pertama setelah
operasi, pada pagi hari
38.4
ºC dan pada sore hari menunjukkan 38,5 ºC. Hari kedua pagi suhu terukur 38,9 ºC
dan 38.7 ºC pada sore hari.
Hari
ketiga pagi suhu terukur 38,4 ºC dan sore hari 38,6 ºC. Pada hari keempat suhu
menunjukkan 38,6 ºC dan sore hari 38,3 ºC. 38,4 ºC dan 38,5 ºC merupakan suhu
pada hari kelima pagi dan sore. Hari keenam pagi suhu tubuh anjing ”Riri’
adalah 38,6 ºC dan 38,7 ºC pada sore harinya. Pada hari terakhir monitoring
suhu tubuh pada pagi hari menunjukkan 38,5 ºC dan sore 38,6 ºC.

Monitoring
selama tujuh hari juga dilakukan pengukuran terhadap jumlah nafas per menit dan
jumlah pulsus per menit, tercatat pada grafik ke 5; dan grafik ke 6 sebagai
berikut:

Grafik 5. Pengukuran frekuensi
nafas selama tujuh hari setelah operasi

           

Frekuensi
nafas yang terukur pada hari pertama pagi dan sore adalah  28x/menit dan 32x/menit. Hari kedua pagi
menunjukkan 40x/menit dan sore 
36x/menit.Frekuensi nafas pada hari ketiga dan hari keempat berjumlah
sama yaitu pada pagi hari  32x/menit dan
sore harinya 36x/menit. Hari kelima pada pagi hari 36x/menit dan sore hari  28x/menit. 32x/menit pada hari keenam pagi
dan sore dan hari ketujuh terhitung 40x/menit pada pagi dan 38x/menit pada sore
hari.
Normal frekuensi
nafas  anjing 24-42 kali/menit (Surono
dkk, 2003) jadi frekuensui nafas yang terhitung pada anjing”Riri” masih dalam
kisaran normal.

 

Grafik 6. Pengukuran pulsus hewan
selama tujuh hari setelah operasi

 

Hari pertama
setelah operasi jumlah pulsus pada pagi hari
100x/menit dan pada sore hari 108x/menit. Hari
kedua 76x/menit dan 108x/menit pada sore hari. Hari ketiga pagi 100x/menit dan
108x/menit pada sore hari. Pada hari keempat pagi 84x/menit dan 88x/menit pada
sore hari. 88x/menit dan 136x/menit merupakan jumlah pulsus pada hari kelima
pagi dan sore. Hari keenam pagi jumlah pulsus anjing ”Riri’ adalah 136x/menit
dan 100x/menit pada sore harinya. Pada hari terakhir monitoring pagi hari
menunjukkan 100x/menit dan 76x/menit pada sore hari. Frekuensi pulsus normal
anjing 76-148 kali/menit sehingga dapat di ketahui bahwa jumlah pulsus pada
anjing ”Riri” normal.

Sebelum melakukan suatu
tindakan operatif hendaknya dilakukan pemeriksaan pendahuluan terlebih dahulu.
Pemeriksaan preanastetik dan evaluasi keadaan pasien sangat penting untuk
mengetahui keadaan pasien berkaitan dengan pemilihan jenis anastesi, dosis dan
teknik pemberian anastesi yang sesuai dengan kepentingan pasien. Temperatur
tubuh, pulsus dan respirasi harus diutamakan dalam pemeriksaan kemudian diikuti
dengan pemeriksaan sistema yang lain. Pasien klinis juga diperlukan untuk
memeriksa profil hematologi (hemoglobin, hematokrit atau jumlah eritrosit,
jumlah leukosit)  untuk menentukan apakah
tindakan anastesi dan operasi dapat dilakukan. Berbagai macam penyakit yang
berpengaruh pada respirasi, kardiovaskuler dan sistem syaraf pusat umumnya akan
meningkatkan efek agen anastetik.

Sehari sebelum dilakukan
operasi, dilakukan pemeriksaan umum dan pemeriksaan darah.
Pemeriksaan umum: anjing ”Riri”  berumur 7 bulan, jenis kelamin betina dengan berat
badan 3,8
kg. Anjing tersebut dalam kondisi sehat. 

            Hasil pemeriksaan darah terlihat
gambaran darah tertera pada tabel 2. Setelah dibandingkan dengan nilai standar
gambaran darah dari hewan tersebut dapat diinterpretasikan sebagai berikut.
Perbandingan hasil pemeriksaan darah terlihat bahwa anjing mengalami anemia
yang disebabkan karena infestasi parasit, disini yang dimungkinkan adalah
cacing.

            Walaupun
hasil pemeriksaan darah anjing mengalami anemia tetapi dengan pertimbangan
anamnesa dan pemeriksaan fisik, anjing di diagnosa sehat dan dapat dilakukan
operasi dengan prognosa fausta.

            Prosedur
awal operasi yang harus dilakukan setelah pemeriksaan pendahuluan adalah
pempuasakan pasien, tidak diberi makan 6-12 jam sebelum operasi dan tidak
diberi minum 2-6 jam sebelum operasi. Hal ini dilakukan untuk mencegah muntah
atau walaupun terjadi muntah maka tidak banyak material padat yang dimuntahkan
serta untuk menurunkan kadar gula darah. Pada penggunaan jenis anastesi xylasin
maka akan terjadi paralisa epiglotis, sehingga jika terjadi muntah dengan
banyak material padat ditakutkan akan terjadi slik pneumoni. Turunnya kadar
gula darah juga menguntungkan yaitu akan memperlama efek narkose.

Pencukuran rambut dilakukan sebelum
operasi pada daerah caudal mid  line atau
daerah yang mau di sayat untuk operasi
dengan silet tajam searah rebah rambut dengan terlebih dahulu dibasahi
dengan air sabun. Hal ini untuk mempermudah pencukuran dan membersihkan kotoran
yang tidak larut air. Daerah yang sudah dicukur kemudian dibasuh dengan air,
diolesi alkohol secara sirkuler dari sentral ke perifer,
setelah itu dioleskan iodium
tincture dengan cara yang sama.
Menurut Brander (1991), alkohol berfungsi
sebagai antiseptik dan desinfektan karena efektif terhadap bakteri, jamur
maupun virus. Untuk meningkatkan daya bunuh kuman, alkohol sering
dikombinasikan dengan antiseptik lain karena sifatnya selalu sinergik. Iodium
tinctur merupakan preparat halogen yang mempunyai efek anti bakteri yang sangat
poten karena afinitas yang tinggi terhadap protoplasma maupun bakteri. Preparat
ini mengandung 3 % iodium tinctur dalam alkohol. Bakteri akan mati setelah
kontak dengan iodium tersebut selama 15 menit.

Premedikasi yang digunakan adalah atropin sulfat 0,04 mg/kg
BB konsentrasi 0,025% diinjeksikan secara subcutan.
Fungsi atropin sebagai
premedikasi adalah untuk meniadakan efek saliva dan sekresi eksokrin,
bronkodilator, mengurangi aktifitas traktus digestifus, menghambat urinasi,
menekan aksi vagus dan mendilatasi pupil selama anastesi (Lumb and Jones, 1984;
Brander et al.,1991). Setelah 15-30 menit diinjeksi atropin sulfat kemudian
diinjeksikan ketamin yang dikombinasikan dengan xylazin. Ketamin yang digunakan
dosis 10 mg/kg BB dengan konsentrasi 10% sedangkan  xylazin dosis 2 mg/kg BB konsentrasi 2 %.

Diketahui berat badan anjing 3,8 kg sehingga dari hasil penghitungan
diperoleh volume atropin sulfat yang digunakan sebanyak 0,53
ml, ketamin 0,50 ml dan xylazin
sebanyak
0,33 ml. Ketamin dengan xylasin kemudian dicampurkan dalam satu spuit dan diinjeksikan secara
intramuskuler. Menurut Lumb dan Jones (1984), Kombinasi antara ketamin dan
xylazin merupakan kombinasi terbaik bagi kedua agen itu untuk menghasilkan
anastesi. Anastesi dengan ketamin-xylazin memiliki efek yang lebih pendek jika
dibandingkan dengan pemberian ketamin saja, tetapi kombinasi ini menghasilkan
relaksasi muskulus yang baik tanpa konvulsi.

Selama operasi berlangsung hingga hewan sadar dari pengaruh
anastesi dilakukan monitoring parameter kardiovaskuler yaitu denyut jantung dan
tekanan darah menggunakan alat Softron BP-98E.. Hal ini dilakukan untuk
memastikan keselamatan pasien melalui status kardiovaskuler. Menurut Anonim a
(2007) dan Anonim c (2008) nilai sistole
normal anjing dengan rata-rata  110-160
mmHg sedangkan nilai diastole normal anjing dengan rata-rata 50-100
mmHg. Sedangkan denyut jantung normal 76-148 kali per menit.

Dalam keadaan hipertensi nilai tekanan
diatas 170/110 mmHg, jika tekanannya terlalu tinggi, bisa merobek pembuluh
darah dan menyebabkan perdarahan di dalam otak (stroke hemoragic).
Sedangkan dalam keadaan hipotensi nilai tekanan dibawah 90/50 mmHg, jika
tekanannya terlalu rendah, maka darah tidak dapat memberikan oksigen dan zat
makanan yang cukup untuk sel dan tidak dapat membuang limbah yang dihasilkan
sebagaimana mestinya (
Anonim a, 2007; Anonim c, 2008).

Anjing “Riri” puasa makan selama 3
hari setelah operasi namun sebagai pengganti makan, infus RD sebanyak 100
ml  setiap pagi dan sore dilakukan, hal
ini bertujuan agar menjaga stabilitas usus dan jahitan pada colon. Pada hari
keempat sudah di berikan air kaldu dan pada hari kelima diberikan makanan yang
lunak seperti bubur, hingga pada hari keenam san selanjutnya diperbolehkan
untuk diberi makanan yang padat.

Perawatan pasca operasi pada bekas jahitan dengan diolesi
Iodium tincture 3% dan salep isodine, kemudian juga dilakukan injeksi
Ampicillin 10% dosis 10 mg/kg secara intramuskuler. Ampicilin yang digunakan
menurut penghitungan berat badan yaitu 0,4 ml. Pemberian ampicilin dilakukan
dua kali sehari selama tiga hari. Pengobatan pasca operasi bertujuan untuk
menanggulani terjadinya infeksi akibat kurangnya sterilitas tindakan operasi
maupun menghindari infeksi yang terjadi selama proses kesembuhan. Ampicilin
adalah antibiotik spektrum luas yang telah ditingkatkan aktifitasnya
terhadap bakteri gram negatif, anaerob maupun aerob (Plum, 1999). Sedangkan
iodium adalah antiseptik dan desinfektan yang dapat digunakan untuk
membersihkan dan menghindari infeksi pada luka jahitan. Infeksi dapat terjadi
akibat kurangnya sterilitas tindakan operasi maupun adanya infeksi yang terjadi
selama proses kesembuhan.

Jahitan diambil pada hari ke-7 pasca operasi, karena
kesembuhan luka incisi bersifat primer sehingga proses epitelisasi, kontraksi
luka, vaskularisasi, serta perbaikan jaringan ikat berlangsung sempurna.
sehingga daerah bekas luka menutup dengan baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


KESIMPULAN

 

Hasil pemeriksaan sebelum operasi, pelaksanaan operasi dan
perawatan pasca operasi maka dapat diambil kesimpulan; kondisi hewan yang baik
sangat menunjang keberhasilan suatu operasi; keberhasilan operasi sangat
tergantung pada persiapan operasi, pelaksanaan operasi dan perawatan pasca
operasi; pemberian premedikasi sebelum anastesi umum sangat penting karena membantu
keberhasilan suatu operasi selain penghitungan dosis premedikasi dan anastetika
umum yang tepat; pelaksaan operasi colopexy telah berhasil dengan baik dengan
kesembuhan primer pada luka incisi dan hewan sembuh dengan baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


GAMBAR-GAMBAR

 

 

Gambar 2. Mengeluarkan colon

 

 

 

Gambar .3 Menempelkan colon dengan dinding
abdomen dengan jahitan sederhana tunggal.

 

 

 

 

Gambar 4. Penutupan Peritoneum dan linea
alba

 

 

Gambar 5. Penutupan subcutan

 

 

 

 

Gambar 6. Penutupan kulit

 

 

Gambar 7. Pemasangan head collar setelah operasi
untuk mencegah lepasnya jahitan

Gambar 8. Kesembuhan luka di hari ke-8


DAFTAR PUSTAKA

 

 

Anonim. 1996.
Equine Blood Cells: http://id.wikipedia.org/wiki/Darah

Anonim, 2005. Fungsi Darah,
Wikipedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Darah

Anonim,
2006. Diktat Kuliah Ilmu bedah Khusus dan
Radiologi
. Fakultas Kedokteran Hewan , Universitas Gadjah Mada.

Anonim, 2007, Blood Pressure In Dogs,
Pet Place Veterinarians, www.petplace.com/dogs/blood-pressure

Anonim a. 2008. Tekanan Darah
Tinggi.
http://www1.bpkpenabur.or.id/kps.jkt/pengurus/uripto/sehat/04tdt.htm

Anonim b. 2008. Apotek Online dan Media Informasi Obat Penyakit. http://www.medicastore.com/cybermed/kategori.php

Archibald, J., 1974. Canine Surgery.
2nd ed. Veterinary Publications. Inc. Santa Barbara California

Battaglia, A. M. 2007. Small Animal Emergency and Critical Care for Veterinary Technicians 2nd
edition.
Saunders Elseiver. United Stated of America

Benjamin,
M.M., 1979. Outline of Veterinary
Clinical Pathology
. The Lowa State university Press, Ames, Lowa, USA.
pp.  48-49, 351.

Brander, G.C., Pugh, D.M. and Bywatyer,
R.J., 1982. Veterinary Applied Pharmacology and Therapeutics. 4th
edition. The English Language Book Society and Bailliere Tindall. London
.

Brander, G.C., Pugh, D.M. and
Bywatyer, R.J.,
Jenkins, W.L,. 1991.
Veterinary Applied Pharmacology and Therapeutics.
5th edition. The English Language Book Society and Bailliere Tindall.
London
. Pp 180, 582-583.

Coles,
E.H., 1986. Veterynary Clinical Pathology.
2nd Ed. W.B. Sounders Company, Philadelphia, London. pp.  10-11.

Darmasjah,
Iwan. 2000. Informatorium Obat nasional
Indonesia 2000
. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Direktorat
Jenderal Pengawas obat dan Makanan.
Jakarta. Pp 205.

Fossum, T. W.. 2002. Small Animal Surgery 2nd edition.
CV Mosby Comp. Philadelphia

Feldman, B. F.;
Zinkl, J. G. Dan Jain, N. C..
2000. Schalm’s Veterinary Hematology 5th Edition. Lippincott
Williams & Wilkins. Philadelphia
.

Frandson,
R.D. 1996. Anatomi dan Fisiologi Ternak.
Edisi ke IV. Terjemahan Dari UGM Press. hal. 
395-407.

Frandson, R.D, et al, 2003. Anatomy
and Phisiology of Farm Animals
. Lippincot Williams and Wilkins. A Wolters
Kluwer Company. Philadelphia
.

Goddman and Gillman, 1995. The Pharmacological Basic of Therapeutics. 9th
Ed
. Lea and Febiger. Philadelphia

Guyton,
A.C.,1991. Textboox of Medical Physiology.
8th Ed. W.B. Sounders. Company. Philadelphia. pp 365-372.

Hall, L. W dan Clark, K. W. 1983. Veterinary Anastesia 8th (ed).
The English Language Book Society and Baillere Tindall. London
.

Handoko, T.  Farmakologi
dan Terapi. Edisi ke-3
. Bagian Farmakologi. FK UI. Jakarta.

Hariono,
B., 1993. Buku Kuliah Patologi klinik.
Bagian Patologi Klinik FKH UGM Yogyakarta.

Haskin, S.C.; Parz, J.D dan Farver,
T.B. 1996. Xylazine and Ketamine in Prog,
Am.J, Vet-Res, 47, pp 636-640.

Komang, I.
W.S., Diah, K. 2004. Anastesi Veteriner.
Gadjah
Mada University Press. Yogyakarta.

Jain,
N.C., 1986. Clinical Pathology. 2nd
Ed. Lea and Febiger, Philadelphia. pp. 518-527
.

Lee, G.R.,
Foersler,J., Parakev, Frisos, Greer, J.P. and Rodges, J.M., 1999. Wintrobe is Clinical Hematology. 10th
Ed.  William and Wilkins, Philadelphia.
pp. 13.

Lumb, B.W. and Wynn,
E.j. 1984. Veterinary Anasthesia. 2nd
Ed
. Lea and Febiger. Philadelphi
.

Lumb, W.V. and Jones,  E.w. 1984. Veterinary Anasthesia 2nd Ed. Lea and Febiger.
Philadelphia
.

Mitruka,
B.M. dan Rawnslay, 1981. Clinical
Biochemical and Hematological Reference Value in Normal Experimental Animal and
Normal Humans
. 2nd Ed. Year Book Medical Publisher, Chicago.
pp.  43-44, 85-86.

Nelson,
R.W., dan Cauto, C.G., 2003. Small Animal
Internal Medicine.
3rd Ed. Mosby, St. Louis. hal. 1156-1159.

Perutz, M. F., 1978. Hemoglobin
Structure and Respiratory Transport
. Scientific American
. USA.

Plumb, Donald, C. 1999. Veterinary
Drug Handbook
. 3rd edition. The Iowa University
Press. Ames Iowa. Pp 64, 362, 648.

Schalm,
O.W. Jain, N.C. and Carrol, E.J., 1975. Veterinary
Hematology
, 6th Ed. Lea and Febiger, Philadelphia. pp.  144, 155-156.

Subronto.
dan Ida Tjahajati. Ilmu Penyakit Ternak
II
. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Widiono,
I. 2001. Diktat kuliah diagnosa klinik.
Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada.
Yogyakarta.

Willard,
M.D. dan Tvedten, H., 1999. Small Animal
Clinical Diagnosis by Laboratory Methods
. 4th Ed. Saunders, St.
Louis. hal. 39, 46-47

Wilson, A. and H.O. Schild, 1968. Aplied
Pharmacology.
10th ed. The English Language Book Society and J
and Churchil, LTD. London.
Pp 234.

Whitby,
E.H. dan Britton, C.J.C., 1953. Disorder
of The Blood
. J and A Churchill Ltd., London, hal. 194-195.

Winotopradjoko, Martono. 2000. Informasi
Sosialite Obat Indonesia
.
Edisi Farmakoterapi, Volume 33. Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia.
Jakarta. Pp 375.

 

 

my march

•April 5, 2008 • Leave a Comment

Menurut buku the secret sih ga boleh ada pikiran negatif, karena itu akan attract apa yang kamu pikirkan. Tapi kok di bilan maret ini aku sial banget yah… di kerjaan nganter-jemput si anin ama feri aku dimarahin ama “the bos” gara2x anaknya mau pulang duluan pake busway ga boleh… Nyemprotnya ampun dah.. ditambah lagi bonus yang kayaknya ga on time… Not to negative thinking ,but come on… 200k for 7 days and 60 kilo’s per day? But how ever thanks god…

Beside that, finally my bike got exhausted… I’m “ndorong” for a week jyst because the cablle got eaten by the F***** rat… Shit,,,,

first i thought thats because the carburator, then the stop contact. but the disease wont be good… till the mechanic said..”kabelnya digigit tikus mas”. Damn rat… Keep your house clean !!!

Last my Rina got the phone dead, cause maybe the battery always dropped..

I’ve just give a 90k pulse for her, and before i can talk for hours, the phone got dead… Another piece of bad of my life.

God……

Please give me power to through it all……

but the good news is my 4 dead phone has been sold for 300k. I dont know what make the man on phone counter coul bought it….

this week i must make report for case of my dog, “Rihanna”. Could you believe that? The name of my dog? name by the girls.. yes its tika, agna, and ety… Thanks guys Continue reading ‘my march’

antar-jemput

•December 14, 2007 • Leave a Comment

alhamdulillah….

itulah kata yang sangat-sangat wajib diucapkan, karena daku mendapatkan rezki yang lumayan. setelah ga dikirimin uang lagi, sejak semester ini harus pintar cari tambahan sendiri

pagi anter, siang jemput sekolah si anin ama feri….

my weekend

•December 2, 2007 • Leave a Comment

habis di rumah fadil, ngetik product catalog k-link, rampung kebeh dab wesss.

ikut ke stadion bola maguwoharjo, ngitungin jumlah motornya, ada 10000motor, pss sleman menang lawan sriwijaya f. mantap man!!!

lanjut minggunya ikut canthing, code utara foto hunting, gak menang sih./… tapi lumayan lah buat belajar..

minggu malemnya ngenet .. belajar jadi operator.

kemaren pas baca majalah mens health (majalah fitness), ada pengacara pas ditanya lagu fave nya si hero (bagus juga)

•December 2, 2007 • Leave a Comment


Hero -
Mariah Carey

There’s a hero

If you look inside your heart

You don’t have to be afraid

Of what you are

There’s an answer

If you reach into your soul

And the sorrow that you know

Will melt away

And then the hero comes
along

With the strength to carry on

And you cast your fears aside

And you know you can survive

So when you feel like hope is gone

Look inside you and be strong

And you’ll finally see the truth

That a hero lies in you

It’s a long road

When you face your world alone

No one reaches out a hand

For you to hold

You can find love

If you search within yourself

And the emptiness you felt

Will disappear

Lord knows

Dreams are hard to follow

But don’t let anyone

Tear them away

Hold on

There will be tomorrow

In time

You’ll find the way

      kamis ini,…

      •November 29, 2007 • Leave a Comment

      bangun pagi tadi rasanya seger banget….

      seharusnya tiap bangun pagi itu kita merasa segar dan mengatakan  SAYA SEHAT DAN LUAR BIASA !!!!

      pagi-pagi  ke tepat si nail, dapet filmnya the secret dari si taufik, langsung dikopi dong, kalo beli harganya 245$..

      trus ke si abang, dia baru landing kemaren malem dari jakarta, katanya sih kacau, pesawat nukik sambil miring, lagi badai diatas jogja kali ya……

      man… aku lagi bingung nih, mau ngekos apa tinggal bareng si abang ya?

      “AKU TIDAK MEMILIH MENJADI INSAN BIASA”

      •November 28, 2007 • 1 Comment

      12811138412889m.jpg

      Aku tidak memilih menjadi insan biasa
      Memang hakku menjadi luar biasa

      Aku mencari kesempatan, bukan perlindungan

      Aku tidak ingin menjadi warga yang terkungkung

      Rendah diri dan terperdaya karena dilindungi pihak yang berkuasa

      Aku siap menghadapi resiko terencana

      Berangan-angan dan membina

      Untuk gagal dan sukses

      Aku menolak menukar insentif dengan derma

      Aku memilih tantangan hidup daripada derma

      Aku memilih tantangan hidup daripada kehidupan yang terjamin

      Kenikmatan mencapai sesuatu,

      Bukan utopia yang basi

      Aku tidak akan menjual kebebasanku

      Tidak juga kemuliaanku untuk mendapatkan derma

      Aku tidak akan merendahkan diri

      Pada sembarangan atasan dan ancaman

      Sudah menjadi warisanku untuk berdiri tegak, megah dan berani

      Untuk berpikir dan bertindak untuk diri sendiri

      Untuk meraih segala keuntungan hasil kerja sendiri

      Dan untuk menghadapi dunia dengan berani dan berkata;

      “Ini Telah Kulakukan!”

      Segalanya ini memberikan makna seorang insan!

      - Dean Alfange -

      Hello world!

      •November 28, 2007 • 1 Comment

      Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!